Yahya dan Surat Sang Adik  

Standar
 

Yahya mempunyai seorang adik lelaki yang pergi ke Makkah dan tinggal di dekat Ka’bah. Lama tak berjumpa dengan sang kakak, ia pun berinisiatif mengirimkan surat padanya, yang berisi;

“Saudaraku, sejujurnya aku punya tiga keinginan. Dua sudah dapat diwujudkan. Pertama, aku ingin tinggal di Makkah, tempat paling mulia di muka bumi. Kedua, aku ingin punya pelayan untuk dapat menyiapkan segala keperluanku, termasuk memanaskan air untuk wudhu, ketika musim dingin tiba. Dan ketiga, sebelum ajal menjemput, aku ingin bertemu denganmu. Semoga kakanda dapat mengabulkan keinginanku yang terakhir itu.”

Yahya membaca surat adiknya, dan kemudian membalasnya,

“Adikku, engkau mengatakan bahwa ingin tinggal di tempat termulia di atas bumi. Namun, sesungguhnya sebuah tempat menjadi mulia karena penghuninya, bukan sebaliknya. Berbuatlah sebaik mungkin, maka kamu bisa tinggal di mana saja dan tetap dapat menjadi manusia yang mulia di mana pun.

Kemudian engkau menginginkan pelayan dan kini telah memilikinya. Jika engkau seorang manusia yang sejati dan takut pada-Nya, engkau tidak akan pernah menjadikan hamba Allah sebagai hambamu, menghalanginya dari melayani Allah dan menghabiskan waktunya untuk melayanimu. Dengan begitu, engkau sesungguhnya telah menjadi tuan yang berkuasa. Tapi, kekuasaan sesungguhnya hanya milik Allah.

Terakhir, engkau mengatakan bahwa engkau ingin berjumpa denganku. Jika engkau benar-benar terpaut pada-Nya, engkau tidak akan sedikitpun mengingatku. Jadi, sibuklah dengan Allah, hingga tak ada lagi ingatan akan kakakmu ini yang merasuki pikiranmu. Di sana (di Makkah), seseorang harus siap mengorbankan anaknya. Apalah artinya seorang kakak, bila engkau telah menemukan-Nya? Dan jika engkau belum menemukan-Nya, keuntungan apa yang bisa engkau dapatkan dariku?”

 —–

Abu Zakariya Yahya ibnu Muad’z ar Radhi merupakan salah seorang murid Ibnu Karram. Ia meninggalkan kota asalnya, Rayy, dan tinggal selama beberapa wakti di Balkh. Setelah itu, ia meneruskan perjalanannya ke Nisyabur, dimana ia wafat pada 258 H/ 871 M.

Menurut Fariduddin Aththar selaku penulis kisah ini, merujuk pada Nabi Ibrahim as yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail as.

 

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s