Kebiadaban dan Ketidakadilan Atas Nama Agama

Standar
Ilustrasi. (Sumber: Muslimvillage)

Ilustrasi.
(Sumber: Muslimvillage)

Apakah ketidakadilan harus dibalas dengan ketidakadilan? Apakah kebencian harus dibalas dengan kebencian? Apakah kebiadaban harus dibalas dengan kebiadaban pula?
Rasulullah Saw. hadir ke dunia ini dengan membawa satu misi Islam, yakni keselamatan bagi seluruh umat manusia. Misi ini begitu gamblang terlihat saat Rasul lebih memilih untuk memberikan pengampunan kepada kaum musyrikin pada hari Penaklukan Makkah, ketimbang membalas mereka—yang dulu pernah “mengusai” kehidupan umat Islam.

Meskipun penindasan, penganiayaan dan penyiksaan yang musyrikin Makkah telah lakukan pada umat Islam selama 13 tahun, semuanya dimaafkan dan dilupakan ketika Rasul dan sahabat yang mulia memasuki Makkah dan dinobatkan sebagai pemenang mutlak. Tidak ada dendam, tidak ada penganiayaan dan tidak ada kepahitan. Tidak ada kebutuhan untuk membentuk komisi kebenaran atau menempatkan orang-orang musyrikin untuk diadili lantaran kekejaman mengerikan yang telah mereka lakukan terhadap umat Islam di masa lalu.

Islam datang untuk keselamatan kekal manusia, maka pesan yang diturunkan tiada lain ditujukan bagi seluruh umat manusia. Tujuan ini selaras dengan tujuan utama Islam yang menghalangi tindakan-tindakan balas dendam saat Makkah berhasil ditaklukkan.

Dengan demikian, jihad Islam sejatinya bertujuan untuk membuka jalan bagi penyebaran pesan keselamatan. Dan, bukan untuk menghancurkan umat manusia. Hal ini bisa dilihat dari berbagai sikap Rasulullah Saw. dan sahabat dalam menghadapi kaum musyrikin, yang tentunya dapat dijadikan teladan utama bagi para mukmin sejati.

Islam bersikap begitu ramah terhadap musuh yang telah berhasil ditaklukkan dan dikalahkan di medan perang. Tidak ada penjarahan dan pembunuhan nakal, seperti halnya yang dilakukan para penjajah kafir yang melancarkan berbagai teror, seperti pemerkosaan dan penjarahan pada musuh yang dikalahkan. Islam hadir dengan arah yang berlawanan.

Muslim yang menikmati kejahatan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai “wakil” atau “duta” Islam, karena mereka sesungguhnya tidak memiliki pemahaman tentang maksud dan tujuan Islam. Sebab Islam hanya dapat disampaikan dan disajikan di hadapan orang-orang non-Muslim dengan contoh dan karakter Rasul dan sahabat-Nya yang begitu ramah. Ini adalah metode asli tabligh dan dakwah. Pindah agama untuk memeluk Islam dalam skala besar di wilayah yang ditaklukkan merupakan efek langsung dari karakter ramah para sahabat, dan juga Rasul.

Sistem aturan yang sangat tinggi

Islam hadir untuk keselamatan abadi umat manusia, dan bukan hanya untuk keberhasilan dan keselamatan duniawi. Sebab kehidupan sejati pada hakikatnya ada ketika kita berada di akhirat. Tanpa Islam, tujuan ini tidak pernah dapat dicapai. Seluruh umat manusia adalah target misi Islam dalam hal dakwah dan tabligh.

Semua orang adalah makhluk (ciptaan) Allah, dan pesan Al-Qur’an telah dikirim ke bumi ini untuk kepentingan semua orang. Tapi Islam tidak dapat disajikan kepada semua orang jika mereka memperlihatkan kekejaman yang dilakukan atas nama Islam.

Membunuh orang dengan atas nama Islam atau jihad tidak dianjurkan oleh syariat. Mereka yang menikmati ketika membunuh ciptaan Allah dengan sembarangan sejatinya telah kehilangan pemahaman iman dan misi Rasulullah itu.

Membunuh orang dengan sembarangan, termasuk perempuan dan anak-anak, penyiksaan, pemerkosaan, penjarahan dan perampokan merupakan tindakan yang biasa dilakukan kaum kafir, sehingga para pengikut Islam tidak diperbolehkan untuk meniru hal tersebut.

Penyiksaan di penjara Irak, di Teluk Guantanamo, di penjara Afghanistan, Pakistan, India, Rusia dan tempat lain merupakan tindakan yang eksklusif, yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki keyakinan yang benar kepada Allah dan Hari Akhir.

Islam merupakan sistem aturan yang sangat tinggi. Islam tidak memiliki ruang untuk melakukan cara cara dan taktik kuffar yang semuanya melahirkan bibit bibit ajaran setan. Semua sistem Islam berasal dari  Ilahi, yang tentunya akan selalu berusaha menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan untuk semua umat dengan cara menebarkan kasih sayang, tak terkecuali pada orang-orang yang berbeda dalam hal apa pun, termasuk beda keyakinan. Aturan yang memiliki nilai moral tinggi ini telah jelas diuraikan dalam hukum syariat. Muslim tidak diizinkan untuk melanggar batas-batas syariat yang bisa merugikan dan menyakiti mereka yang menderita ketika berada dalam kekuasaan orang-orang liar dan barbar.

Barbarisme

Ini merupakan kewajiban umat Muslim untuk menaklukkan dan menghilangkan perbuatan barabarisme dari kaum barbar. Tujuannya bukan untuk menghilangkan barbar, namun dengan penaklukkan itu, umat Islam justru harus mengubah kaum barbar agar menjadi manusia seutuhnya, sehingga keselamatan kekal mereka di akhirat terjamin. Itulah yang telah dicapai Rasulallah.

Muslim tidak dibenarkan membalas kejahatan dengan kejahatan pula, sebagaimana tercantum dalam surat Al Maidah ayat 2:

“Janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Dalam ayat ini, Allah melarang balas dendam. Dia melarang umat Islam untuk membalas penganiayaan dengan penganiayaan, penyiksaan dengan penyiksaan, ketidakadilan dengan ketidakadilan. Ayat ini dengan sangat jelas menuntun umat Islam untuk tidak membiarkan kebencian mereka pada setiap orang yang bisa menyebabkan mereka melanggar batas-batas syariat.

Mereka yang telah menganiaya dan menyiksa Muslim diampuni dan diterima dalam kelompok Islam. Islam datang untuk keselamatan mereka di Hari Akhir. Kejahatan masa lalu mereka tidak diatur sebagai penghalang bagi mereka masuk ke kelompok Islam. Islam tidak menyebarkan konsep komisi kebenaran dan lembaga-lembaga sejenis. Ini berlaku untuk kepentingan terbaik bagi umat manusia. Sebab, selain keadilan di dunia, sejatinya ada yang lebih baik lagi bagi mereka, yakni keselamatan kekal di akhirat.

Sebagai contoh, pernah suatu ketika para sahabat begitu sangat marah terhadap Rasulallah. Penyebabnya tiada lain karena Rasul bersikap begitu baik terhadap kaum kafir. Peristiwa ini bermula ketika Rasul dan para sahabat dicegah oleh orang-orang kafir Quraisy di Hudaibiyah sehingga mereka tidak bisa melaksanakan umrah.

Saat itu, Rasul tidak menunjukkan sikap marah. Beliau justru mengadakan perjanjian bernama Hudaibiyah dengan kaum kafir Quraisy yang isi perjanjian tersebut secara dzohir menguntungkan kaum kafir dan merugikan kaum muslimin. Sontak saja para sahabat pun menjadi marah. Alhasil, karena mereka tidak bisa berumrah, mereka pun harus bertahallul di Hudaibiyah.

Melihat keharusan bertahallul untuk menyempurnakan ibadah umrah itu, Rasul kemudian memerintah para sahabatnya untuk menyembelih sesembelihan mereka dan mencukur rambut mereka. Namun tidak seorang pun dari mereka yang berdiri melaksanakan perintah Nabi tersebut, bahkan Rasul mengulang perintah tersebut hingga tiga kali. Namun,tak seorang pun melaksanakannya karena saking marahnya para sahabat terhadap orang-orang musyrik dan sikap Rasul yang baik itu.

Usai penolakan para sahabat atas perintah sang pemimpin itu, Rasul bahkan tidak juga marah. Ia bahkan berusaha mencari cara agar para sahabat bisa melaksanakan tugasnya dalam berumrah dengan baik tanpa paksaan.

Lalu Rasulullah pun menemui Ummu Salamah dan menyebutkan hal tersebut. Maka Ummu Salamah berkata, “Keluarlah engkau (dari tendamu) dan janganlah engkau berbicara dengan salah seorang pun dari mereka kemudian sembelihlah untamu dan panggillah tukang cukurmu untuk mencukur rambutmu”. Lalu keluarlah Rasulullah dan ia tidak berbicara dengan seorang sahabat pun, kemudian ia memanggil tukang cukurnya dan mencukur rambutnya. Tatkala para sahabat melihat sikap Rasulullah tersebut maka merekapun segera berdiri dan memotong sembelihan-sembelihan mereka dan saling mencukur di antara mereka. [HR Al-Bukhari II/978 no 2581]

Subhanallah,  lihatlah bagaimana cerdasnya Rasul saat menghadapi penolakan para pengikutnya. Beliau masih mempertahankan sikap musyawarah dengan menemui sang isteri, Ummu Salamah guna menghindari kekerasan atau paksaan.

Rasul menanaggapi penolakan para sahabat dengan penuh sabar dan memilih untuk secara langsung menunjukkan apa yang beliau perintahkan dengan melalui perbuatan.

Keadilan

Islam merupakan agama keadilan dan kasih sayang. Hadhrat Mufti Muhammad Shafi menyatakan dalam bukunya yang berjudul Maaariful Al-Qur’an:

“Al Qur’anulkarim mengajarkan kesetaraan dan keadilan untuk keduanya, baik teman maupun musuh. Semua orang sama dalam hal ini. Terlepas dari seberapa brutal musuh Anda dan betapa ia telah menganiaya Anda, itu adalah kewajiban Anda untuk memperlakukan dia dengan keadilan. Dalm hal ini, Islam begitu unik. Ini adalah hal yang khusus dalam Islam. Ini merupakan pengamanan hak-hak setiap makhluk bernyawa, bahkan musuh. Islam tidak mengimbangi ketidakadilan dengan ketidakadilan. Melainkan merespon ketidakadilan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Ialhiah yang pro terhadap kebaikan.” Wallahu A’lam Bishowab. [LS]

Sumber: Muslimvillage/TheMajlis dengan penambahan seperlunya

Boleh mengcopy, asal mencantumkan sumber link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s