Memetik Hikmah Sufi dari Kisah Cinta Terlarang Laila dan Majnun

Standar
mythologystories.wordpress.com

mythologystories.wordpress.com

“Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih)
***
Suatu hari, bapaknya Laila mengadakan acara syukuran. Diajaknya semua warga desa untuk makan di rumahnya. Biasanya, Majnun tak pernah datang di acara seperti ini. Tapi karena yang mengadakan acara itu bapaknya kekasihnya, bapaknya Laila, dia pun semangat untuk segera memenuhi undangan itu.

Sampai di halaman si tuan rumah, Majnun melihat semua orang antri. Dilihatnya Lalila sedang menghidangkan makanan satu per satu pada tamu bapaknya itu. Majnun pun langsung ikut antrian, harapannya agar dia dapat bertemu dengan Laila, meski hanya sebentar.

Satu per satu, Majnun melewati antrian. Makin dekat dengan si kekasihnya itu, hatinya semakin menggelora. Lama sudah ia memendam kuah rindu. Dan, inilah waktu yang tepat bagi Majnun untuk bisa menemui sang permata hati.

Akhirnya, sampailah dia berdiri di depan Laila. Ia pun memberikan piringnya pada Laila. Namun, di luar dugaan. Bukan senyum yang Majnun terima, bukan pula kata-kata mutiara yang ia dapat. Ya, seketika itu pula Laila mengambil piring Majnun, lalu langsung memecahkanya ke lantai.

Seluruh keluarga Laila, yang sedari tadi memperhatikan adegan itu, bersorak gembira. Horrrre … akhirnya Laila menyerah. Inilah tanda bahwa Lalila sudah tidak sayang lagi pada Majnun.

Tapi, di antara kerumunan orang itu, ada seorang yang melihat ekspresi Majnun. Hatinya bertanya, “Kenapa Majnun malah tersenyum?”

Alhasil, daripada dirundung rasa penasaran, ia pun akhirnya mendatangi Majnun dan segera bertanya, “Kamu habis dipermalukan di hadapan semua warga desa, kenapa mukamu masih senyum?”
Majnun kaget, dan berucap, “Kapan saya dipermalukan?”

“Waktu Laila pecahkan piringmu. Bukankah itu menunjukkan bahwa dia sudah tidak sayang lagi padamu?”
Majnun tersenyum seraya berkata, “Oh, rupanya kamu salah paham. Tadi Laila pecahkan piringku itu tujuannya hanya satu, agar aku ikut antrian lagi. Agar kami bisa bertemu dua kali. Agar kami bisa lebih lama saling memandang, sehingga rindu ini dapat terobati dengan sempurna.”

***

Ya, itulah secuplik kisah Laila dan Majnun. Secuil kisah, yang (minimal) mengandung dua makna.
Pertama, kisah ini berusaha menunjukkan pada kita semua bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup ini, sejatinya datang dari Allah. Entah itu dibungkus dengan rasa manis, asem, gurih, atau bahkan pahit sekalipun. Rezeki yang melimpah, atau musibah yang melanda seolah tak henti, semua datang dari Allah. Bahasa kerennya, nothing without You lah …😀

Kedua, Allah senantiasa memberi kita pilihan. “Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaq ‘alaih). Ya, selama yang kita pikirkan tentang Allah dan segala yang Dia berikan (entah berupa kesenangan atau kesedihan) baik lagi positif, hasilnya pun akan serupa. Sebaliknya, jika yang kita pikirkan buruk, maka hasilnya pun akan buruk. Ini janji-Nya. Dan Dia tidak pernah mengingkari janji. Innallaha la yukhliful mi’aad. “Sesunggunya Allah tidak pernah mengingkari janji” (QS Ali Imran [3] : 194).

Persis seperti kisah ini bukan? Seandainya saja Majnun berpikir negatif dan langsung balik badan pulang … Seandainya Majnun berpikir bahwa sikap Laila memecahkan piring merupakan tanda bahwa kekasihnya itu tak lagi sayang padanya … Seandainya Majnun berpikir … bla … bla … bla …, pasti ia takkan mendapati kekasihnya kembali. Pastilah pertengkaran hebat yang akan terjadi di antara kedua insan yang tengah dimabuk cinta ini. Pastilah rindu yang telah lama ia pendam itu, justru malah berbalik jadi benci.

Tapi sebaliknya, Majnun memilih untuk berpikir positif dan tetap tersenyum dengan sikap kekasihnya. Karena dia tahu, Laila sangat mencintai Majnun. Sama seperti dirinya mencintai Laila.

Pun begitu dengan kita. Kadang kita mengira bahwa musibah yang datang pada kita … kehidupan yang tidak kunjung baik … keran rezeki yang kadang masih belum lancar … kesehatan yang belum benar-benar prima … malah menjadi penyebab bagi kita untuk terus berpikir negatif pada Tuhan. Padahal, kita tahu bahwa kita ini merupakan makhluk kecintaan Tuhan. Dan, Dia, Dzat yang Menciptakan kita, tidaklah mungkin menelantarkan apa yang Dia ciptakan. Ini sebagaimana janji-Nya,

“… Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya.” (QS Hud [11]: 6)

Sayangnya, meskipun Allah menjamin rezeki ini, tapi Dia tetap tidak mengesampingkan keadilan-Nya. Sehingga, selain janji-Nya di atas tadi, Dia juga berjanji, bahwa:

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa, kecuali apa yang telah dikerjakannya.” (QS Al-Najm [53]: 39)

“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7)

So, masihkah kita berani mengingkari nikmat-Nya? Masihkah kita menuruti sumpah Iblis, yang selalu menggiring kita untuk ingar nikmat?” Masihkah kita mengeluhkan apa pun yang Tuhan berikan pada kita? Allahumma ba’idna.

Boleh mengcopy, asal mencantumkan link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s