ALLAH “CEMBURU” MELIHATMU!

Standar
aiendyu.com

aiendyu.com

Pernahkah Anda mendengar kata cemburu? Pernahkah Anda menemukan maknanya dalam Kamus? Untuk pertanyaan pertama saya yakin bahwa Anda sudah pernah mendengar kata cemburu, bahkan sering, entah itu di sekolah, dapur, kantor, supermarket, pasar, jalanan, televisi, radio, surat kabar atau rumah. Untuk pertanyaan kedua saya rasa Anda tidak perlu menggubrisnya, mengapa ? karena cemburu adalah sebuah perasaan yang timbul karena sebab-sebab tertentu dan musabab-musababnya pun bisa beragam. Sehingga jika cemburu diartikan secara otoriter oleh sebuah definisi, makna cemburu tersebut akan mengotak dan mengecil serta menghilangkan sisi-sisi ‘kebatinan’ nya.

Saya pernah cemburu, dan mungkin juga Anda, khususnya mereka yang sedang berkobar hati asmara di dalam dadanya. Berawal dari rasa cinta yang mengakar kuat dalam hati seseorang ke dalam hati kekasihnya. Berawal dari rasa sayang yang melimpah dari hati seseorang ke dalam hati kekasihnya. Berawal dari keinginan untuk melindungi sang kekasih dari segala macam gangguan di manapun juga. Dan keinginan untuk memiliki sang kekasih agar menjadi tempat bersemayam cintanya merupakan serantaian faktor kecil dari sebab-sebab cemburu.

Ya, mungkin sepintas kata “cemburu” amatlah mengerikan sekaligus membahagiakan. Sebab, tak jarang jika manusia, apalagi atarpasangan memiliki sifat cemburu yang berlebihan maka bisa saja terjadi pertumpahan darah karenanya. Tetapi cemburu pun mampu mewakili perasaan seseorang jika hatinya memiliki rasa cinta yang amat sangat. Tak heran jika ada pepatah mengatakan bahwa bumbu cinta adalah rasa cemburu. Tak ada cinta jika tak ada rasa cemburu. Atan ciri adanya cinta adalah adanya rasa cemburu. Singkatnya, tak bisa dikatakan punya cinta jika tidak timbul rasa cemburu.

Kalau manusia yang cemburu sih wajar, karena manusia memiliki nafsu dan karenanya selalu ingin memiliki dengan utuh dan sempurna, meskipun pada dasarnya, apapun yang dilakukan manusia tak akan bisa sempurna. Lantas, bagaimana dengan kecemburuan Allah??? Tuhan koq cemburu…Dia kan yang punya segalanya. Dia kan yang Maha Sempurna. Jika Allah mau, maka bisa saja bumi beserta isinya dihancurkan dalam “kun fa ya kun-Nya” jika Allah melihat kekacauan pada apa yang telah dicipta tanpa hitungan detik.

Sebagai gambaran mari kita simak baik-baik hadits berikut ini. “Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa rasul Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah cemburu, demikian juga orang mukmin. Kecemburuan Allah timbul apabila hamba yang mukmin melakukan perbuatan yang diharamkan-Nya” (H.R. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas jelas bahwa Allah memiliki “rasa cemburu” pada hambanya yang ternyata mengaku mukmin tetapi perilakuknya jauh dari ajaran Islam. Sebab manusia dicipta di muka bumi ini tiada lain untuk beribadah pada-Nya. Hanya untuk mengabdikan segala hidup dan mati untuk-Nya. Sebagaimana apa yang kita lafalkan di setiap waktu shalat. “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil a’lamiin”. Begitu juga dengan firman-Nya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. AD-Dzariat: 56)

Namun, coba kita perhatikan dengan kondisi manusia saat ini. Manusia yang ber-KTP Islam dengan perilaku menyimpang. Misalnya, mengaku Islam dan memang ber-KTP Islam namun masih senang memfitnah orang lain. Masih senang menggunjingkan orang lain. Masih senang mencuri, korupsi, dan segala jenis perbuatan nista lainnya. Kita lihat betapa maraknya acara televisi yang senang mencela orang lain. Acara radio yang terkadang mengundang amarah orang lain. Bacaan media cetak yang sengaja diposting mengonjang-ganjingkan situasi. Akhirnya, kondisi yang sudah parah bukannya “sembuh” malah semakin parah dan tambah parah.

Selain itu, space untuk panggilan shalat pun sangat minim. Kita lihat saja panggilan untuk shalat yang ditayangkan di televisi hanya satu kali sehari, padahal bukankah shalat adalah hal yang paling penting dalam Islam? Bukankah shalat adalah pondasi umat Islam. Lantas, di mana peran media yang sesungguhnya? Bukankah di jaman yang serbacanggih ini, televisi merupakan guru kedua setelah sekolah formal? Atau bahkan televisi lah yang senyatanya dijadikan sebagai guru utama manusia.

Tontonan yang dijadikan sebagai tuntunan itu pun makin marak. Media dengan iklannya memberikan virus yang kelihatannya enteng namun pasti merusak manusia. Seperti iklan yang mengatakan seseorang tidak dikatakan cantik, ganteng, gaul ataupun keren jika tidak menggunakan produk anu dan itu. Padahal, bukankah cantik dalam Islam lebih diprioritaskan pada inner beauty seseorang? Bukankah ganteng dan keren dalam Islam adalah karena ketakwaannya?
Kita bandingkan dengan space iklan yang memamerkan kemewahan duniawi. Berbagai iklan yang saling mengejek. Saling menghina, saling merendahkan. Hal demikian sungguh sangat jauh dengan nilai-nilai islami. Apa hubungannya iklan yang jauh dari ajaran islam dengan kecemburuan Allah? Apa hubungannya orang-orang berbuat maksiat dengan kecemburuan Allah? Apa hubungannya orang-orang lalai shalat dengan kecemburuan Allah? Jelas, Allah cemburu karena ALLAH SANGAT MENCINTAI MAKHLUKNYA TERUTAMA MANUSIA. Karena Allah menginginkan semua manusia merasakan indah dan nikmtnya syurga.

Dan, karenanya, pantaslah jika Allah cemburu melihatmu berbuat seperti di atas. Allah cemburu melihat makhluk yang dicipta-Nya, yang diharapkan dapat berbuat baik. Yang selalu disanjung sebagai makhluk pilihan-Nya sebagai khalifah telah berbuat nista dan menentang perintah-Nya. Rasa cemburu yang diungkapkan pada hadits tersebut merupakan suatu istilah yang menggambarkan bahwa Allah menghendaki kebaikan hamba-Nya. Karena Allah tidaklah membutuhkan sesuatu dari apa yang diciptakan-Nya kecuali lil ibadah (tentu saja ibadah dalam konteks luas).

Sebaliknya, Allah lah tempat berlindung dan meminta. “Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QA. Al-Ikhlas: 2)
Jika demikian adanya, maka pantaslah apabila Allah “cemburu”. Allah yang mencipta tapi malah tidak diperhatikan. Allah yang membuat tapi malah tidak dihiraukan. Suara adzan bersahutan tiada henti mengelilingi bumi dan alam jagat raya. Namun, orang yang sedang bekerja berkilah “tanggung” hingga waktu shalat pun hampir usai atau malah justru kebablasan. Orang yang sedang asyik nonton TV, pun demikian. Kesibukan duniawi selalu mengalahkan kesibukan akhirat dengan alasan yang dibuat-buat. Seolah-olah suara adzan hanya digunakan sebagai hiasan umat Islam.

Allah cemburu melihatmu berjuang mati-matian demi “mengisi perut” namun tak sempat mengucap syukur pada yang memberi isi perut (Allah SWT). Allah cemburu melihatmu lebih mementingkan kesenangan diri dibandingkan kesenangan yang memberi kesenangan. Allah cemburu melihatmu berkoar-koar membela hak sedangkan kewajibannya sendiri tak mampu ditunaikan.

Oleh karena itu pula Allah sediakan syurga dan neraka. Bagi hamba-Nya yang mau “mendengarkan” Sang Pencipta, maka syurga lah tempatnya. Dan bagi yang “mendengar” hanya sambil lalu, maka neraka lah balasannya.

Ia tahu tentang kebenaran, tapi ia tidak mengaplikasikan kebenaran tersebut. Ia tahu apa itu Islam, tapi ia enggan mempraktikkan apa yang diketahuinya. Orang-orang seperti inilah yang Allah sebut dalam firman-Nya “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, Mereka (manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), punya telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang.” (QS. Al-A’raf: 179)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At-Tiin: 4-5).

Maka, oleh karena itu, mari kita bersama-sama selalu mengagungkan asma-Nya melebihi dari mendzikirkan nama-nama isteri kita, suami kita, anak-anak kita, harta kita dan segala hal keduniaaan lainnya yang kerap menyita pikiran kita sebagai manusia. Mari kita berbuat baik yang diperuntukkan hanya untuk-Nya agar kelak kita termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung. Semoga kita semua mampu memahami kecemburuan Allah sebagai pecutan cinta dan kasih sayang-Nya, sehingga kita tidak terjerumus arus waktu. Aamiin.

***

Boleh mengcopy, asal mencantumkan link tulisan ini.

(Lina Sellin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s