“Tipuan” Makkah

Standar

Lanskap Makkah kini telah berubah sedemikian rupa. Bahkan, hampir semua tanda-tanda Hari Akhir telah muncul di dalamnya. Rasul Saw. bersabda, “Salah satu tanda Hari Akhir adalah ketika umat Islam senang berlomba-lomba meninggikan bangunan, dan melupakan imannya yang pokok.” (HR. Ibn Majah)

Jika Anda menatap Ka’bah cukup lama, Anda akan menyadari bahwa Anda tidak sedang melihat bangunan mewah nan megah. Tapi sebaliknya, Anda sedang menatap sebuah bangunan elegan – terbungkus, kosong, dan hanya berbentuk dadu.

Tidak ada lampu neon di atasnya untuk memunculkan imajinasi Anda, tidak ada arsitektur yang rumit untuk dapat memunculkan kekaguman, dan tentu saja tidak ada atraksi unik di sekitar bangunan itu, selain garis-garis tak berujung ubin marmer yang ditujukan untuk satu kepentingan, ibadah.

Namun, itu sangat sulit untuk menutup mata Anda dan melewatinya tanpa sedikit pun merasa bersalah. Lantas, apa yang membuat mata Anda terpaku pada Ka’bah?

Ada beberapa hal yang tidak dapat diungkapkan lewat kata-kata, dan perasaan yang menggetarkan saat melihat Ka’bah merupakan satu pengalaman tersendiri, ketika penuh kasih menyentuh Hajr Aswad (Batu Surga), dan ketika melakukan shalat di Hateem (daerah yang dipisahkan tembok rendah, yang secara teknis, ada dalam Ka’bah itu sendiri), termasuk di dalamnya.

Rasa kagum tiba-tiba hadir begitu saja mengalahkan segalanya. Anda seolah tidak sedang melihat Ka’bah dengan mata fisik. Tidak mendengar dengan telinga, atau bahkan tidak sedang berpikir dengan menggunakan otak fisik Anda.

Cahaya spiritualitas mengambil alih jiwa Anda dan mulai berkomunikasi dengan jiwa Ka’bah. Perasaan tak terlukiskan. Anda menyadari bahwa baru saja Anda dihormati dengan menyebut “Labbaik” ketika mengingat Nabi Ibrahim As. mengatakannya lebih dari 3000 tahun yang lalu, ketika ia berdiri di puncak Gunung Abu Qubais, menyerukan kepada semua orang sampai Hari Akhir, untuk mengunjungi Ka’bah. Tiba-tiba, dunia tidak lagi ada dan segala sesuatu di sekitar Anda lenyap. Di sana hanya ada diri sendiri dan Tuhanmu, Yang Mahakuasa, dalam pertemuan suci – seperti jutaan malaikat melakukannya langsung di atas Ka’bah, di langit ketujuh, sekitar rumah suci yang disebut Baitul Ma’mur.

Puncak pertemuan dengan Allah ini bukan hanya penting secara spiritual, tapi juga geografis. Untuk para jamaah yang mungkin lupa pelajaran Geografi, jutaan tahun lalu, jauh sebelum zaman es atau bahkan zaman Dinosaurus, seluruh dunia telah terendam air. Tiba-tiba, gelembung misterius muncul, dan dari sana sebidang tanah kering dibuat dengan berbeda. Lahan kering ini kemudian naik 277 meter di atas permukaan laut dan menyebar, membentuk apa yang kita ketahui hari ini sebagai benua. Ka’bah, juga dikenal sebagai “Angkatan Laut Bumi,” dibangun di atas tempat yang tepat dari gelembung ini.

Dalam bahasa sederhana, Ka’bah terletak pada jarak yang sama dengan lingkar bumi di segala penjuru. Sekitar 2 milyar Muslim menghormati Ka’bah dan melantunkan segala doa minimal lima kali sehari.

Modernisasi Makkah

Tidak ada keraguan bahwa lanskap Makkah kini telah berubah sedemikian rupa. Bahkan, hampir semua tanda-tanda Hari Akhir telah muncul di dalamnya. Betapa kita melihat, alangkah banyaknya bangunan bertingkat tinggi—yang sengaja dibentuk melebihi tingginya gunung-gunung yang menjulang dan membuat Ka’bah tampak kerdil.

Beragam lampu menyala terlihat dari jarak 35 km, menghiasi aneka taman dan tempat hiburan. Dua puluh tahun lalu, kunjungan ke landmark Islam di Makkah akan menjadi pengalaman yang menyegarkan rohani dimana mereka bisa “merasa” perjuangan masa lalu para Nabi telah ikut hadir dalam dirinya.

Rasa sedih, haru, bahagia seketika muncul dan membuat mata dan kaki terpaku. Namun kini, warisan indah Islam telah berubah menjadi aksesoris matrealistik yang hanya bisa dilihat dan dipandang lewat mata fisik, tapi tidak untuk kepuasan mata batin.

Hari ini Makkah mungkin menjadi kota umat Muslim tercepat yang dimodernisasi. Ekspansi baru untuk Masjidil Haram telah dirancang oleh Atkins menyerupai sebuah paviliun besar atau stadion, yang seolah menunjukkan bahwa Ka’bah tidak lebih dari sebuah “tempat suci.”

Sebuah foto atau video di depan Ka’bah menjadi lebih penting daripada menyentuh atau menangis dalam doa ketika berada di dekatnya. Pemerintah setempat sengaja mengimpor ayam dari Brasil dan negara-negara lain guna memenuhi kebutuhan para peziarah. Status halal menjadi pertanyaan para ulama setempat. Bahkan air Zam Zam pun turut masuk ranah modernisasi.

Menurut laporan terakhir, Holy Water diganggu gugat karena mencampur air Zam Zam dengan bahan kimia untuk “memurnikan dan melestarikannya” dengan standar Barat. Ini merupakan salah satu alasan mengapa tidak ada yang memiliki akses langsung ke sumur bawah tanah itu sendiri. Umat Muslim membayar mahal untuk “pemurnian” ini. Seperti di Makkah, botol 10L Zam Zam akan dikenakan biaya 25 Riyal. Sedangkan satu galon bahan bakar (juga berisi 10L), hanya dihargai 5 Riyal. Harga yang cukup fantastis untuk membayar air, bukan?

Memang, tidak ada yang mengingatkan salah satu kota suci ini, kecuali Ka’bah itu sendiri. Ka’bah yang suci dan menjadi landmark umat Islam seolah menipu mata batin kita, dengan hadirnya gemerlap duniawi. Makna ibadah pun semakin terlupkan. Kesederhanaan, kebaikan antar makhluk, kecintaan antar sesama, keintiman dengan Pencipta, dan lain sebagainya.

Banyak di antaranya mengutuk tindakan Raja yang telah memodernisasi kota suci ini. Tapi kenyataannya, Raja seperti semua pengusaha cerdas lainnya hanya melihat kesempatan, dan berusaha merebutnya.

Dia tahu bagaimana para peziarah telah meninggalkan kesederhanaan, dan beralih pada kemewahan dan kemegahan. Sehingga, membuat haji dan umroh sebagai “liburan yang ideal dan tujuan belanja,” merupakan salah satu bentuk ladang bisnis yang wajar seperti halnya ladang minyak, yang mungkin saja besok akan kering.

Bisnis haji dan umroh memiliki banyak permintaan dan penawaran. Tentu, bisnis ini memiliki banyak pelanggan. Namun, jika umat kembali ke kesederhanaan, maka Mahakuasa pun akan menunjuk penguasa yang akan mencintai pedang mereka lebih dari anggur dan musik mereka.

Jangan Terlena

Jika hanya Ka’bah yang mengingatkan Anda tentang Kota Suci ini, maka Ka’bah merupakan tempat di mana Anda harus menghabiskan sebagian besar waktu Anda di Makkah, saat berkunjung ke sana—tidak di mal mewah dengan semua toko desainer Barat. Setiap detik adalah waktu istimewa di Ka’bah. Jangan mengangkat mata dari Ka’bah, atau menatap kagum pada bangunan lain (terutama Jam Gadang) di Masjidil Haram. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi.

Ketika Anda meleburkan diri pada ibadah, merintih pada-Nya, memohon belas kasihan dari Yang Maha Kuasa atau ketika Anda melakukan thawaf, lakukanlah dengan segenap kesopanan dan kerendahan hati. Sebab dalam kondisi ini, Anda akan mengalami realitas—yang akan mengubah kehidupan Anda dalam hal tertentu, sebagaimana Anda memaknai setiap gerakan dalam ibadah haji dan umroh.

Ya, bukankah tujuan utama kita berkunjung ke Ka’bah (seharusnya) untuk merintih dan mendekati-Nya? Jika tidak, bukankah hakikatnya (kita) telah tertipu oleh perhiasan dunia berupa gemerlap aksesoris Makkah?

Silakan mengcopy, asal sertakan sumber link tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s