Aku dan Mbak Najwa Sihab

Standar

najwa

Waktu pasang DP ini di BB, tiba-tiba beberapa sahabat saya kembali menegaskan apakah saya Syiah atau bukan. Dan, kenapa saya sering bergaul dengan orang-orang yang mendapat label “Syiah”. Tentu saja saya tidak tersinggung, apalagi marah. Saya justru tersenyum sembari membalas komentar saya itu.

Bagi saya, urusan sesat atau bukan adalah mutlak milik Dzat yang memiliki kita. Karena bisa dibayangkan betapa miskinnya pengetahuan kita, bahkan atas diri kita sendiri. Jumlah rambut kita saja kita tidak tahu. Apa yang dilakukan para makhluk di balik kulit kita saja kita tidak tahu. Apalagi utk mengetahui isi hati orang lain? Lalu, masih beranikah kita memberi label pada orang lain, jika memberi label pada diri sendiri saja nyatanya kita tidak mampu? Ah, betapa miskinnya pengetahuan saya sebagai manusia.

Rasul sendiri waktu ditanya, apa itu takwa, beliau menjawab, “ha huna” sambil menunjuk dada si penanya. Takwa ada di dalam hatimu, begitu kata beliau. Dan karenanya, takwa tidak bisa terlihat dari luar. Seseorang yang terlihat dari luar sering sedekah dan haji, ternyata di kemudian hari diketahui telah korup.

Lagi pula, manusia selalu punya kecenderungan untuk berubah–bahkan dalam hitungan detik. Bisa jadi detik ini kita mengaku beriman, namun saat ajal menjemput kita malah terpeleset kekufuran (naudzubillah tsumma naudzubillah). Pun sebaliknya, bisa jadi orang dilabeli sesat, justru ternyata dialah yang memang benar-benar baik dan mendapat apresiasi dari Tuhan. Kemungkinan itu selalu ada. Itu sebabnya, setiap shalat kita diwajibkan untuk terus memohon agar ditunjukkan ke jalan yang lurus.

Jadi bagi saya, bila seseorang sudah dewasa dlm beragama, maka tidak seharusnya memperdebatkan perbedaan. Toh, beda adalah sunnatulllah. Menjadi niscaya adanya selama masih nangkring di bumi. Wallahu a’lam.

Ohya, terkait foto ini, saya sendiri ingin sekali belajar dari beliau, dan juga yang lain. Karena bagi saya, kemiskinan yg sesungguhnya adalah ketika kita hny belajar dari satu sisi, lalu lupa pada sisi lainnya. Bukan hanya pada manusia kita belajar, bahkan pada batu sekalipun–meskinya kita belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s