Bahaya Makan di Luar Rumah

Standar

lapar-banget-kucing-ini-hanya-mampu-memandang-display-makanan-di-depan-restoran

Ilustrasi diambil dari Vemale.com

Dulu, dulu, dulu sekali… saya merasa bahwa makan di luar rumah adalah suatu aib. Terutama bagi perempuan. Karena memang begitulah yang ditanamkan kedua orangtua sejak masih kecil. Bila pun harus membeli makanan di luar, orangtua selalu mewajibkan kami membawanya ke rumah dan memakannya saat sudah sampai di dalam rumah.

Sampai sekarang pun, didikan beliau masih menempel dalam segala tindakan saya terkait peran rumah bagi kehidupan. Hanya saja, kebiasaan itu kadang saya langgar karena memang kondisi yang tidak memungkinkan, entah itu karena sedang di perjalanan jauh, atau sedang bertemu klien. Meski tetap saja saya merasa berdosa ketika melakukannya. Dan, tradisi “melanggar” ini terjadi sejak saya mulai duduk di bangku kuliah, terutama jika sedang kongkow bareng teman organisasi. Dari pembicaraan ngalor ngidul sampai akhirnya pesan makanan—yang tentu di tempat yang sama pula kami menyantapnya.

Saya tidak pernah tahu apa alasan orangtua saya mendidik demikian. Tapi, tetiba saja saya ingat bahwa makan di luar bukan cuma menjauhkan kita dari kekhusyukan saat berterima kasih pada Tuhan akan karunia-Nya yang telah memberi kita santapan jasmani, tapi juga banyak hal prinsip yang kadang sering kita lupakan. Salah satunya adalah tentang berbagi.  Ya, berbagi.

Jauh sebelum kami lahir, Rasul mewasiatkan pada umatnya untuk memperhatikan orang sekitar, terutama tetangga. Tetangga ini, menurut saya bisa diartikan luas. Entah karena bangunan rumah kita yang berdekatan, atau karena kondisi kita yang saat itu memang sedang “berdekatan”.

Dalam sabdanya, beliau mewanti-wanti dengan cukup “keras”,

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ

“Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga (yang di sebelah)nya kelaparan”. [HR al-Bukhori di dalam al-Adab al-Mufrad: 112, al-Baihaqi. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih].

مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَانٌ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ

 “Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang padahal tetangganya yang di sampingnya dalam keadaan lapar sedangkan ia mengetahuinya.” [HR ath-Thabrani di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih].

“… jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim)

Dan, masih banyak lagi hadis terkait pentingnya berbagi pada “tetangga”.

Sementara tetangga bermakna luas, saya menduga bahwa makan di luar cenderung menimbulkan rasa “kabita”, “kepengen”, “ngiler”, bagi orang lain. Sehingga, bila kita memang ingin makan di luar alangkah baiknya bila kita menyediakan “sedikit” uang guna mentraktir teman kita yang kebetulan sedang duduk di meja yang sama, bila ia memang menjaga diri tidak memesan makan. Entah karena alasan lain (tidak lapar) mungkin? Karena bisa jadi, alasan ini merupakan “adab”nya ketika memang sedang tidak ada uang. Atau memang kondisinya benar-benar sedang tidak mood makan. Tapi saran saya, tetap usahakanlah untuk menyediakan rupiah guna menyantap makan bersama.

Atau bisa jadi ada orang di sekitar meja makan kita yang memperhatikan, karena memang kepengen. Entah itu dari pengunjung rumah makan sendiri, pelayan, atau bahkan orang-orang di luar sana yang memang mampir ke rumah makan sekadar untuk mengusap air liurnya guna mengobati rasa laparnya yang berkepanjangan (kaum dhuafa?). Dan, kondisi ini sering sekali luput dari pandangan kita karena saking asyiknya menyantap makanan.

Sehingga, saran saya, apabila memang sedang tidak ada rezeki untuk berbagi pada orang di sekitar tempat makan kita, alangkah baiknya bila kita membawa makanan itu ke rumah dan menyantapnya kala sedang berada di dalam rumah. Tentu, bukan karena alasan pelit atau enggan berbagi.  Hal ini dilakukan tidak lain guna menghindari kondisi tersebut.

“dan janganlah sekali-kali orang-orang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada  mereka dari Karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada Hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Ali Imran [3]: 180)

Wallahu a’lam bishshowab.

2 thoughts on “Bahaya Makan di Luar Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s