Indonesia: Negara yang Memanusiakan Manusia

Standar

i_love_indonesia_2_inch_round_magnet-rd20679d809d044e39370665e5e74b34f_x7js9_8byvr_324.jpg

Ilustrasi gambar diambil dari Zazzle

“Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Peribahasa ini menurut saya sangat mewakili kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo, atau dalam bahasa agama disebut negara yang “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur”, oleh sebagian penghuninya dilihat sebelah mata. Bahkan, dalam salah satu diskusi kami tentang pentingnya memandang “Indonesia”, para “aktivis” itu begitu berapi-api meng”idola”kan negeri seberang, lalu menyebut Indonesia sebagai negara yang tidak atau kurang “maju”. Bagi mereka, Indonesia tak ubahnya seperti pasar tumpah—yang penuh lumpur dan debu—dan karenanya sudah seharusnya berbenah memperbaiki diri dalam segala hal. Bersolek dari mulai transportasi hingga “model” kehidupannya.

Tak hanya itu, sistem negara pun ikut dikritisinya. Katanya, kalau mau maju dan menyejahterakan rakyatnya, Indonesia harus meniru sistem pemerintahan di luar nun jauh di sana. Dan, karena Islam sebagai agama terbesar di negeri ini maka Islam pulalah yang seharusnya memimpin—seperti halnya di Saudi sana. Untuk cita-cita ini, sistem kekhilafahan pun pada akhirnya—menurut mereka—menjadi solusi.

Ah, Teman … percayalah bahwa negara yang kalian idam-idamkan sistemnya untuk diadopsi oleh bangsa kita ini sejatinya tidak lebih baik dari sistem negara kita. Kalian memandang bahwa Indonesia terlihat jauuuh tertinggal dari negara-negara lain, bahkan yang ada di sebelahnya. Namun, Teman … jangan hanya melihat Indonesia dari tampilan fisik semata. Jangan melihat Indonesia dari sederet keruwetan fasilitas negaranya saja. Jangan memandang Indonesia hanya dari dalam negeri saja. Lihatlah Indonesia secara keseluruhan!

Sesekali pergilah ke luar zona kita. Lihatlah dunia dan coba bandingkan dengan segala pernik kehidupan negeri kita yang unik dan mengagumkan ini. Sekali lagi, jangan bandingkan Indonesia hanya dari fisiknya saja. Lihatlah Indonesia secara keseluruhan. Sebagaimana kau melihat “gajah” secara sempurna. Bukan hanya belalainya saja. Bukan hanya kakinya saja, bukan hanya punggungnya saja. Lihat keseluruhannya, dan pasti kan kau temukan kesempurnaan ciptaan-Nya.

Pun begitu dengan caramu seharusnya dalam melihat Indonesia. Keluarlah ke negeri di luar sana. Bila perlu, menetaplah barang setahun dua tahun untuk melihat kehidupan sejati di negara yang kau puja itu. Lalu bandingkan bagaimana “kehidupan” di antara keduanya. Mengapa?

Karena, puji Tuhan, saya pernah menetap di Saudi selama beberapa tahun. Dan, dari sanalah perasaan cinta terhadap negeri sendiri muncul. Dari sanalah saya menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang banyak diidolakan oleh negeri luar sana. Lantas, mengapa kita justru mengidolakan negeri lain?

Teman … Indonesia yang kutinggalkan adalah Indonesia yang kurindu—sepenuh jiwa. Bukan hanya rindu pada keluarga karena jauh dari mereka, tapi juga pernik kehidupan Indonesia—yang dulu sempat kupandang sebelah mata.

Makanan kami saat di Saudi begitu terjamin, semua ada! Bahkan dari makanan khas Saudi sampai makanan dari berbagai negara lain tersedia! Begitu pun kehangatan keluarga. Meski jauh dari negeri sendiri, di sana saya mendapatkan keluarga baru yang tak kalah membahagiakan. Bahkan, saking dekatnya, pasca saya kembali ke Indonesia, mereka masih saja berharap saya bisa kembali. Dan, tawaran yang selalu menggiurkan adalah—selain kehidupan ekonomi (dari tempat tinggal hingga makanan) saya dijamin, fasilitas kesehatan gratis, mereka pun membebaskan saya untuk menempuh studi, dan itu free.

Ah, Indonesia tetap menjadi pilihan hidup saya! Meski makan seadanya, meski tinggal di gubuk reyot, meski hampir dikatakan serba susah dalam hal pemenuhan fasilitas hidup, Indonesia tetap aku puja.

Selain Saudi, saya juga pernah menginjakkan kaki ke negara lain seperti Yordania, Oman, Syiria, Lebanon, Qatar, Palestina, Singapura, dan Amerika. Dan, itu free dari kafil/kafilah saya waktu di Saudi! (Ah, betapa beruntungnya saya bermukim di kediaman mereka. Status Pembantu Rumah Tangga mengajarkan saya betapa luasnya karunia Tuhan pada makhluk-Nya.). Dan, Indonesia tetap istimewa di mata saya. Bukan Yordania, Oman, Syiria, Lebanon, Qatar, Palestina, Singapura, atau Amerika! Indonesia! Indonesia! Dan, Indonesia!

Teman … ingatkah (tahukah) kalian bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang “mengizinkan” adanya tradisi diskusi bahkan “pengajian” hingga larut malam—tanpa “pengawalan ketat” para aparat?

Ingatkah (tahukah) kalian bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang disebut “jannin”, indah surgawi, oleh sebagian besar masyarakat Arab Saudi? Karena alasan ini pula, banyak masyarakat sana yang selalu menyempatkan waktu liburan untuk berkunjung ke Indonesia! Bukan Eropa atau Amerika!

Ingatkah (tahukah) kalian bahwa meski Indonesia mendapat peringkat tanah tersubur ke-11 di dunia, tapi Indonesia lah yang memiliki pulau tersubur di dunia, yakni Pulau Jawa. Hal ini wajar, karena Jawa memiliki banyak gunung berapi aktif. Dan, gunung berapi aktif inilah yang konon memiliki kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Sehingga, –masih secara logika awam saya—masyarakat Indonesia tak perlu khawatir masalah kekurangan pangan. Toh, Indonesia memiliki “lumbung” yang tidak dipunyai negara lain! Dan, yang lebih mengasyikkan tinggal di Indonesia adalah tradisi saling tepaslira-nya, gotong royongnya, dan saling bahu membahunya dalam hal apa pun–tak terkecuali masalah berbagi “rezeki”.

Itulah sederet alasan singkat saya mengapa TETAP MEMILIH INDONESIA. Sebuah kenyamanan yang tidak bisa didapatkan dari negara mana pun. Sebuah kenyamanan yang didapat dari hasil menempatkan manusia pada posisinya sebagai manusia! Inilah poin yang sangat penting dalam kehidupan manusia—bahkan dalam berbangsa dan bernegara! Memanusiakan manusia!

Sehingga, membangun Indonesia, menurut saya, bukan hanya soal bersolek secara fisik semata. Tapi lebih dari itu, kecintaan terhadap Indonesia–yang mengakar kuat dan timbul dari hati nuranilah–yang kelak dapat mengokohkan “bangunan” sejati bangsa Indonesia.

Wallahu a’lam bissho-wab.[]

12 thoughts on “Indonesia: Negara yang Memanusiakan Manusia

  1. Anonim

    Indonesia is the best,,,, di Negeri manapun kita tinggal tetap dan tetap Indonesia yang terbaik, semangat majukan indonesia,,,,
    kerennnnn…… banget kak tulisannya terharu membacanya.:)

  2. jja

    Indonesia is the best,,,, di Negeri manapun kita tinggal tetap dan tetap Indonesia yang terbaik, semangat majukan indonesia,,,,
    kerennnnn…… banget kak tulisannya terharu membacanya.:)

  3. iis

    Indonesia is the best,,,, di Negeri manapun kita tinggal tetap dan tetap Indonesia yang terbaik, semangat majukan indonesia,,,,
    kerennnnn…… banget kak tulisannya terharu membacanya.:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s