Hujan dan Kadar Kesyukuran Seseorang

Standar
images
Ilustrasi ini diambil dari Kampusiana.net
Kemarin, entah ada angin apa tiba-tiba suami saya bertanya. “Lina, kenapa kamu begitu menyukai hujan?” Dan, saat itu pula otak saya membandingkan dua tradisi yang sangat jauh berbeda antara masyarakat Timur Tengah dengan Indonesia, negeriku tercinta.
 
Dulu, waktu saya tinggal di Saudi, sempat merasa heran mengapa sebagian besar mereka langsung keluar rumah dan sujud saat turun hujan. Sementara di negeriku, justru sebaliknya. Sebagian besar orang langsung masuk ke rumah/bangunan bila turun hujan. Kukira ini hanya alasan cuaca antara kedua negara yang berbeda. Dan, karena Indonesia sering tersiram “kuah rindu Tuhan” (Hujan-red.), kehadiran hujan pun tak begitu dinantikan, atau bahkan malah dirutuki. Namun, ini sangat berbeda dengan negeri Timur Tengah sana, karena memang mereka jarang sekali disambangi hujan.
 
Tapi, selidik punya selidik, ternyata ini terkait erat dengan kadar kesyukuran seseorang. Sehingga, sikap di atas tentu saja tidak terkait pada negara, suku, ataupun agama.
 
Hujan, sebagaimana banyak disinggung Al-Quran, sejatinya merupakan nikmat yang langsung datang dari Tuhan, dan bahkan beberapa hadis menjelaskannya sebagai sesuatu yang “baru saja dibuat” oleh Tuhan. Karenanya, dalam tiap tetes hujan, dibarengi pula dengan turunnya malaikat. Bisa dibayangkan betapa banyaknya malaikat yang diturunkan ke bumi, bukan?
 
Nah, perihal ini, saya pernah membaca dalam salah satu kumpulan hadis bahwa, suatu ketika para sahabat bercerita: “Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah. Lalu beliau menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami bertanya, “Wahai Rasul, mengapa engkau melakukan demikian?” Beliau bersabda, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan”( HR Muslim, no. 898).
 
Sementara itu, banyak pula hadis yang menegaskan bahwa hujan bisa menjadi perantara doa seseorang langsung dikabulkan dan bisa juga menjadi azab bagi yang merutukinya. Seperti tercantum dalam riwayat Muslim, “Dua doa yang tidak akan ditolak: [1] doa ketika azan dan [2] doa ketika turunnya hujan.”
 
Juga, dalam riwayat Bukhari: “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam Jahannam.”
 
Alhasil, karena beberapa alasan ini pula, dengan mantap saya pun menjawab pertanyaan suami, “Karena hujan mengingatkan saya pada betapa besar nikmat dan karunia-Nya. Dengan hujan, segala hal yang mati dapat hidup. Dan melalui hujan pula, kita semua bisa “bertemu” dengan para utusannya, malaikat.”
 
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan gersang, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Allah Yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Fushshilat [41]: 39).
 
So, tunggu apa lagi? Mari kita sambut hujan dengan penuh syukur dan ribuan doa (baik), agar kelak yang terpantul dalam kehidupan kita pun (hanya) berupa kebaikan. Amiin.[]
 
Salam hangat,
 
Sahabatmu, Lina Sellin.

2 thoughts on “Hujan dan Kadar Kesyukuran Seseorang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s