Kala Hari Itu Tiba

Standar

images-3

Ilustrasi ini diambil dari PENULISONLINE.COM

 

Suatu saat nanti, cepat atau lambat, kita semua akan mati. Terkubur tanah dan berselimutkan tanah. Berteman cacing dan berkawankan kecoa. Badan yang segar bugar pun harus rela berbagi dengan mereka. Tak bisa menolak, atau juga lari.

Pilihannya hanya satu, menerima segala apa saja yang datang kepadanya. Bila pun memberontak, itu sama saja berbicara kepada tembok. Karena, jangankan semut yang dulu pernah kau injak sanggup menolong, orang-orang terdekatmu yang dulu kau kira mencintai dan menyayangimu pun tengah sama-sama sibuk mengenali siapa sosok dirinya dan di mana kelak ia akan berlabuh, menemui Tuhan atau berbelok ke Jahanam karena “lupa diri” kala mampir di bumi-Nya.

Dalam kurun waktu tertentu, semuanya akan terus begitu, dan begitu hingga datang suatu masa di mana Israfil meniupkan Sang Sangkakala. Lalu, tersadarlah manusia bahwa kini saatnya ia dibangkitkan dalam kondisi telanjang bulat di Padang luas bernama Makhsyar.

“Wahai tubuh-tubuh yang telah hancur, tulang-belulang yang telah remuk, rambut-rambut yang beterbangan dan urat lehermu yang terputus! Bangkitlah kamu dari perut burung, dari perut binatang buas, dari dasar laut dan dari perut bumi ke perhimpunan Tuhan yang Maha Perkasa.”

Lantas mereka yang tengah sibuk mengenali siap sosok dirinya pun menyahut, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami yang ini (alam kubur)?”

Dan, kebingungan pun makin menggelayut di dada. Siapakah gerangan yang membangunkan mereka dengan bising suara yang memekakkan telinga. Masing-masing orang tak peduli siapa kawan dan siapa saudara. Siapa teman dan siapa sanak famili. Terus hilir mudik seorang diri tanpa sanggup menjawab sedang apa sebenarnya ia duduk dan mondar mandir di padang terluas ini. Terus begitu, hingga tak sadar bahwa dirinya telah berada dalam kebingungan selama ratusan atau bahkan puluhan ribu tahun! Duduk berhimpit seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya.

Juga, manusia dalam keadaan berbagai rupa. Ada yang buta. Ada juga yang cacat. Ada yang penuh luka bercampur darah dan nanah, dan ada juga yang sanggup tersenyum simpul, manis sekali. Semuanya akan tampak sebagaimana layaknya ia dulu hidup di dunia. Semua bentuk mereka tergantung pada amalnya masing-masing.

Ditambah lapar dan dahaga, ia terus mencari ke mana hendak pergi dan kepada siapa hendak melabuhkan iman.

Dan pada saat itu, teringatlah semua umat manusia akan Nabinya. Di mana Nabi yang dulu pernah diikutinya?

Mereka pun mencari dan mencari. Nabiku, di manakah engkau berada?

Dan, kala umat tengah sibuk mencari Nabinya, sang Nabi, yang sudah dibangkitkan dari kubur paling awal, pada hari tersebut, sebetulnya ketika bangkit sambil membuang tanah dari rambut dan janggut, beliau gelisah dan terus bertanya kepada Malaikat Jibril,
Di manakah umatku? Umatku …. umatku … di mana umatku, ya Jibril?

Begitu besar kerinduan Nabi kepada umatnya, bahkan menepis kerinduannya kepada keluarga dan kerabat dekat.

Allahu akbar. Bisa dibayangkan, Rasul yang demikian agung, saat pertama kali dibangunkan dari tidur panjang, beliau tidak bertanya di mana Khadijah, istriku? Di mana Fatimah, anakku? Di mana Ali, cucuku? Tetapi, dengan penuh gelisah beliau terus menyebut, umatku … di mana umatku?

Nabi sangat rindu ingin bertemu dengan umatnya. Oooh, alangkah terharu dan tersanjungnya kita, dirindu dan diinginkan jumpa oleh orang nomor satu di sejagat alam.

“Oh, di mana umatku?”

Jibril pun menjawab, “Wahai Muhammad! Umatmu adalah umat yang terakhir. Mereka berjalan dengan lambat dan perlahan.”

Mendengar jawaban itu, Muhammad, Nabi paling dicintai Allah itu kemudian menangis … dan terus menangis. Hingga tibalah suatu masa di mana Hari Perhitungan itu akan tiba. Maka, pada saat itu, tak seorang Nabi pun yang berani menghadap untuk dihisab dikarenakan masing-masing tergambar “dosa” kala ia hidup dahulu … lalu, saat itu pula Nabi Muhammad pun memohon agar diawalkan penghisabannya.

Jibril pun datang menemui Muhammad, lalu berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu telah dipanggil untuk dihisab oleh Allah Taala.”

Setelah mendapat berita bahwa umatnya akan dihisab lebih awal dibandingkan umat-umat yang lain, Muhammad pun mengumumkan kepada umatnya itu. Dan, di antara orang-orang yang berdosa pun menyahut dengan senggukan tangis. Terkejut dan takut akan azab yang janjikan-Nya itu benar akan tiba.

Kemudian, perlahan Muhammad memimpin semua barisan umatnya sebagaimana penggembala memimpin ternaknya menuju Allah Taala.

Lalu, Allah berfirman: “Wahai hambaKu! Hari ini, Kami akan membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan. Hari ini, Aku akan memuliakan sesiapa yang mentaatiKu. Dan, Aku akan mengazab siapa saja yang durhaka terhadapKu ….”

Allah … Allah … Allah … ampuni kami. Ampuni khilaf kami, dan jadikanlah Muhammad, Nabi kami tercinta sebagai syafaat kala hari itu tiba. Hari di mana tiada lagi kasih selain kasih Nabi kami dan kasih-Mu. Amin.[]

 

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

 

 

Hujan dan Kadar Kesyukuran Seseorang

Standar
images
Ilustrasi ini diambil dari Kampusiana.net
Kemarin, entah ada angin apa tiba-tiba suami saya bertanya. “Lina, kenapa kamu begitu menyukai hujan?” Dan, saat itu pula otak saya membandingkan dua tradisi yang sangat jauh berbeda antara masyarakat Timur Tengah dengan Indonesia, negeriku tercinta.
 
Dulu, waktu saya tinggal di Saudi, sempat merasa heran mengapa sebagian besar mereka langsung keluar rumah dan sujud saat turun hujan. Sementara di negeriku, justru sebaliknya. Sebagian besar orang langsung masuk ke rumah/bangunan bila turun hujan. Kukira ini hanya alasan cuaca antara kedua negara yang berbeda. Dan, karena Indonesia sering tersiram “kuah rindu Tuhan” (Hujan-red.), kehadiran hujan pun tak begitu dinantikan, atau bahkan malah dirutuki. Namun, ini sangat berbeda dengan negeri Timur Tengah sana, karena memang mereka jarang sekali disambangi hujan.
 
Tapi, selidik punya selidik, ternyata ini terkait erat dengan kadar kesyukuran seseorang. Sehingga, sikap di atas tentu saja tidak terkait pada negara, suku, ataupun agama.
 
Hujan, sebagaimana banyak disinggung Al-Quran, sejatinya merupakan nikmat yang langsung datang dari Tuhan, dan bahkan beberapa hadis menjelaskannya sebagai sesuatu yang “baru saja dibuat” oleh Tuhan. Karenanya, dalam tiap tetes hujan, dibarengi pula dengan turunnya malaikat. Bisa dibayangkan betapa banyaknya malaikat yang diturunkan ke bumi, bukan?
 
Nah, perihal ini, saya pernah membaca dalam salah satu kumpulan hadis bahwa, suatu ketika para sahabat bercerita: “Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah. Lalu beliau menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami bertanya, “Wahai Rasul, mengapa engkau melakukan demikian?” Beliau bersabda, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan”( HR Muslim, no. 898).
 
Sementara itu, banyak pula hadis yang menegaskan bahwa hujan bisa menjadi perantara doa seseorang langsung dikabulkan dan bisa juga menjadi azab bagi yang merutukinya. Seperti tercantum dalam riwayat Muslim, “Dua doa yang tidak akan ditolak: [1] doa ketika azan dan [2] doa ketika turunnya hujan.”
 
Juga, dalam riwayat Bukhari: “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam Jahannam.”
 
Alhasil, karena beberapa alasan ini pula, dengan mantap saya pun menjawab pertanyaan suami, “Karena hujan mengingatkan saya pada betapa besar nikmat dan karunia-Nya. Dengan hujan, segala hal yang mati dapat hidup. Dan melalui hujan pula, kita semua bisa “bertemu” dengan para utusannya, malaikat.”
 
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan gersang, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Allah Yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Fushshilat [41]: 39).
 
So, tunggu apa lagi? Mari kita sambut hujan dengan penuh syukur dan ribuan doa (baik), agar kelak yang terpantul dalam kehidupan kita pun (hanya) berupa kebaikan. Amiin.[]
 
Salam hangat,
 
Sahabatmu, Lina Sellin.

Indonesia: Negara yang Memanusiakan Manusia

Standar

i_love_indonesia_2_inch_round_magnet-rd20679d809d044e39370665e5e74b34f_x7js9_8byvr_324.jpg

Ilustrasi gambar diambil dari Zazzle

“Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Peribahasa ini menurut saya sangat mewakili kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo, atau dalam bahasa agama disebut negara yang “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur”, oleh sebagian penghuninya dilihat sebelah mata. Bahkan, dalam salah satu diskusi kami tentang pentingnya memandang “Indonesia”, para “aktivis” itu begitu berapi-api meng”idola”kan negeri seberang, lalu menyebut Indonesia sebagai negara yang tidak atau kurang “maju”. Bagi mereka, Indonesia tak ubahnya seperti pasar tumpah—yang penuh lumpur dan debu—dan karenanya sudah seharusnya berbenah memperbaiki diri dalam segala hal. Bersolek dari mulai transportasi hingga “model” kehidupannya.

Tak hanya itu, sistem negara pun ikut dikritisinya. Katanya, kalau mau maju dan menyejahterakan rakyatnya, Indonesia harus meniru sistem pemerintahan di luar nun jauh di sana. Dan, karena Islam sebagai agama terbesar di negeri ini maka Islam pulalah yang seharusnya memimpin—seperti halnya di Saudi sana. Untuk cita-cita ini, sistem kekhilafahan pun pada akhirnya—menurut mereka—menjadi solusi.

Ah, Teman … percayalah bahwa negara yang kalian idam-idamkan sistemnya untuk diadopsi oleh bangsa kita ini sejatinya tidak lebih baik dari sistem negara kita. Kalian memandang bahwa Indonesia terlihat jauuuh tertinggal dari negara-negara lain, bahkan yang ada di sebelahnya. Namun, Teman … jangan hanya melihat Indonesia dari tampilan fisik semata. Jangan melihat Indonesia dari sederet keruwetan fasilitas negaranya saja. Jangan memandang Indonesia hanya dari dalam negeri saja. Lihatlah Indonesia secara keseluruhan!

Sesekali pergilah ke luar zona kita. Lihatlah dunia dan coba bandingkan dengan segala pernik kehidupan negeri kita yang unik dan mengagumkan ini. Sekali lagi, jangan bandingkan Indonesia hanya dari fisiknya saja. Lihatlah Indonesia secara keseluruhan. Sebagaimana kau melihat “gajah” secara sempurna. Bukan hanya belalainya saja. Bukan hanya kakinya saja, bukan hanya punggungnya saja. Lihat keseluruhannya, dan pasti kan kau temukan kesempurnaan ciptaan-Nya.

Pun begitu dengan caramu seharusnya dalam melihat Indonesia. Keluarlah ke negeri di luar sana. Bila perlu, menetaplah barang setahun dua tahun untuk melihat kehidupan sejati di negara yang kau puja itu. Lalu bandingkan bagaimana “kehidupan” di antara keduanya. Mengapa?

Karena, puji Tuhan, saya pernah menetap di Saudi selama beberapa tahun. Dan, dari sanalah perasaan cinta terhadap negeri sendiri muncul. Dari sanalah saya menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang banyak diidolakan oleh negeri luar sana. Lantas, mengapa kita justru mengidolakan negeri lain?

Teman … Indonesia yang kutinggalkan adalah Indonesia yang kurindu—sepenuh jiwa. Bukan hanya rindu pada keluarga karena jauh dari mereka, tapi juga pernik kehidupan Indonesia—yang dulu sempat kupandang sebelah mata.

Makanan kami saat di Saudi begitu terjamin, semua ada! Bahkan dari makanan khas Saudi sampai makanan dari berbagai negara lain tersedia! Begitu pun kehangatan keluarga. Meski jauh dari negeri sendiri, di sana saya mendapatkan keluarga baru yang tak kalah membahagiakan. Bahkan, saking dekatnya, pasca saya kembali ke Indonesia, mereka masih saja berharap saya bisa kembali. Dan, tawaran yang selalu menggiurkan adalah—selain kehidupan ekonomi (dari tempat tinggal hingga makanan) saya dijamin, fasilitas kesehatan gratis, mereka pun membebaskan saya untuk menempuh studi, dan itu free.

Ah, Indonesia tetap menjadi pilihan hidup saya! Meski makan seadanya, meski tinggal di gubuk reyot, meski hampir dikatakan serba susah dalam hal pemenuhan fasilitas hidup, Indonesia tetap aku puja.

Selain Saudi, saya juga pernah menginjakkan kaki ke negara lain seperti Yordania, Oman, Syiria, Lebanon, Qatar, Palestina, Singapura, dan Amerika. Dan, itu free dari kafil/kafilah saya waktu di Saudi! (Ah, betapa beruntungnya saya bermukim di kediaman mereka. Status Pembantu Rumah Tangga mengajarkan saya betapa luasnya karunia Tuhan pada makhluk-Nya.). Dan, Indonesia tetap istimewa di mata saya. Bukan Yordania, Oman, Syiria, Lebanon, Qatar, Palestina, Singapura, atau Amerika! Indonesia! Indonesia! Dan, Indonesia!

Teman … ingatkah (tahukah) kalian bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang “mengizinkan” adanya tradisi diskusi bahkan “pengajian” hingga larut malam—tanpa “pengawalan ketat” para aparat?

Ingatkah (tahukah) kalian bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang disebut “jannin”, indah surgawi, oleh sebagian besar masyarakat Arab Saudi? Karena alasan ini pula, banyak masyarakat sana yang selalu menyempatkan waktu liburan untuk berkunjung ke Indonesia! Bukan Eropa atau Amerika!

Ingatkah (tahukah) kalian bahwa meski Indonesia mendapat peringkat tanah tersubur ke-11 di dunia, tapi Indonesia lah yang memiliki pulau tersubur di dunia, yakni Pulau Jawa. Hal ini wajar, karena Jawa memiliki banyak gunung berapi aktif. Dan, gunung berapi aktif inilah yang konon memiliki kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Sehingga, –masih secara logika awam saya—masyarakat Indonesia tak perlu khawatir masalah kekurangan pangan. Toh, Indonesia memiliki “lumbung” yang tidak dipunyai negara lain! Dan, yang lebih mengasyikkan tinggal di Indonesia adalah tradisi saling tepaslira-nya, gotong royongnya, dan saling bahu membahunya dalam hal apa pun–tak terkecuali masalah berbagi “rezeki”.

Itulah sederet alasan singkat saya mengapa TETAP MEMILIH INDONESIA. Sebuah kenyamanan yang tidak bisa didapatkan dari negara mana pun. Sebuah kenyamanan yang didapat dari hasil menempatkan manusia pada posisinya sebagai manusia! Inilah poin yang sangat penting dalam kehidupan manusia—bahkan dalam berbangsa dan bernegara! Memanusiakan manusia!

Sehingga, membangun Indonesia, menurut saya, bukan hanya soal bersolek secara fisik semata. Tapi lebih dari itu, kecintaan terhadap Indonesia–yang mengakar kuat dan timbul dari hati nuranilah–yang kelak dapat mengokohkan “bangunan” sejati bangsa Indonesia.

Wallahu a’lam bissho-wab.[]

Hiruk Pikuk Demo 4 November

Standar

Di tengah hiruk pikuk Demo 4 Nov kemarin, saya kok mendadak sedih sekaligus khawatir akan prediksi Nabi yang sudah dipesankan jauh-jauh hari tentang munculnya sikap mudah menyampaikan “berita”.

Dan, di era ini nampaknya tanda-tanda itu makin jelas. Lewat media apa pun, dengan mudah saling melempar argumen. Dari berita satu disambung berita lainnya, yang–wallahu a’lam–ilmu kita terlalu cetek untuk mengetahui kebenarannya–dishare dengan mudahnya.

Padahal, jauh-jauh hari Baginda kita mengingatkan bahwa, “tugas” yang paling berbahaya bagi manusia sejatinya adalah penyampai berita. Saking bahayanya, Al-Quran sendiri menyebutnya secara terang-terangan.

Sayangnya, gelas pikiran kita yang sudah penuh akan bendera masing-masing, membuat diri lupa, bahwa betapa sedikitnya ilmu yang kita ketahui. Bahkan, sekadar mengetahui makhluk di balik kulit tubuh sendiri saja kita tak mampu, lantas kenapa pula kita “berani” membenarkan kelompok mana yang benar dan kelompok mana yang salah?

Bahaya Makan di Luar Rumah

Standar

lapar-banget-kucing-ini-hanya-mampu-memandang-display-makanan-di-depan-restoran

Ilustrasi diambil dari Vemale.com

Dulu, dulu, dulu sekali… saya merasa bahwa makan di luar rumah adalah suatu aib. Terutama bagi perempuan. Karena memang begitulah yang ditanamkan kedua orangtua sejak masih kecil. Bila pun harus membeli makanan di luar, orangtua selalu mewajibkan kami membawanya ke rumah dan memakannya saat sudah sampai di dalam rumah.

Sampai sekarang pun, didikan beliau masih menempel dalam segala tindakan saya terkait peran rumah bagi kehidupan. Hanya saja, kebiasaan itu kadang saya langgar karena memang kondisi yang tidak memungkinkan, entah itu karena sedang di perjalanan jauh, atau sedang bertemu klien. Meski tetap saja saya merasa berdosa ketika melakukannya. Dan, tradisi “melanggar” ini terjadi sejak saya mulai duduk di bangku kuliah, terutama jika sedang kongkow bareng teman organisasi. Dari pembicaraan ngalor ngidul sampai akhirnya pesan makanan—yang tentu di tempat yang sama pula kami menyantapnya.

Saya tidak pernah tahu apa alasan orangtua saya mendidik demikian. Tapi, tetiba saja saya ingat bahwa makan di luar bukan cuma menjauhkan kita dari kekhusyukan saat berterima kasih pada Tuhan akan karunia-Nya yang telah memberi kita santapan jasmani, tapi juga banyak hal prinsip yang kadang sering kita lupakan. Salah satunya adalah tentang berbagi.  Ya, berbagi.

Jauh sebelum kami lahir, Rasul mewasiatkan pada umatnya untuk memperhatikan orang sekitar, terutama tetangga. Tetangga ini, menurut saya bisa diartikan luas. Entah karena bangunan rumah kita yang berdekatan, atau karena kondisi kita yang saat itu memang sedang “berdekatan”.

Dalam sabdanya, beliau mewanti-wanti dengan cukup “keras”,

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ

“Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga (yang di sebelah)nya kelaparan”. [HR al-Bukhori di dalam al-Adab al-Mufrad: 112, al-Baihaqi. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih].

مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَانٌ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ

 “Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang padahal tetangganya yang di sampingnya dalam keadaan lapar sedangkan ia mengetahuinya.” [HR ath-Thabrani di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih].

“… jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim)

Dan, masih banyak lagi hadis terkait pentingnya berbagi pada “tetangga”.

Sementara tetangga bermakna luas, saya menduga bahwa makan di luar cenderung menimbulkan rasa “kabita”, “kepengen”, “ngiler”, bagi orang lain. Sehingga, bila kita memang ingin makan di luar alangkah baiknya bila kita menyediakan “sedikit” uang guna mentraktir teman kita yang kebetulan sedang duduk di meja yang sama, bila ia memang menjaga diri tidak memesan makan. Entah karena alasan lain (tidak lapar) mungkin? Karena bisa jadi, alasan ini merupakan “adab”nya ketika memang sedang tidak ada uang. Atau memang kondisinya benar-benar sedang tidak mood makan. Tapi saran saya, tetap usahakanlah untuk menyediakan rupiah guna menyantap makan bersama.

Atau bisa jadi ada orang di sekitar meja makan kita yang memperhatikan, karena memang kepengen. Entah itu dari pengunjung rumah makan sendiri, pelayan, atau bahkan orang-orang di luar sana yang memang mampir ke rumah makan sekadar untuk mengusap air liurnya guna mengobati rasa laparnya yang berkepanjangan (kaum dhuafa?). Dan, kondisi ini sering sekali luput dari pandangan kita karena saking asyiknya menyantap makanan.

Sehingga, saran saya, apabila memang sedang tidak ada rezeki untuk berbagi pada orang di sekitar tempat makan kita, alangkah baiknya bila kita membawa makanan itu ke rumah dan menyantapnya kala sedang berada di dalam rumah. Tentu, bukan karena alasan pelit atau enggan berbagi.  Hal ini dilakukan tidak lain guna menghindari kondisi tersebut.

“dan janganlah sekali-kali orang-orang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada  mereka dari Karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada Hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Ali Imran [3]: 180)

Wallahu a’lam bishshowab.

Agen Tuhan

Standar

love

Foto ilustasi diambil dari www.qwled.com

Setiap manusia dilahirkan untuk menjadi agen Tuhan (khalifatullah, walinya Allah). Dan sudah seharusnya, ketika didaulat menjadi wali–sebagaimana wali murid, wali direktur, wali pimpinan–tentu kita pun hanya menebarkan pesan apa saja yang diamanatkan orang atau lembaga yang kita wakili tersebut.

Pun dengan menjadi walinya Allah–yang seharusnya hanya menebarkan apa yg diamanatkanNya sebagaimana tercantum jelas dalam kalimat “Bismillahirrahmanirrahim”. Atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dan, jika membaca terjemahan ini (atas nama Allah), maka tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, sebagai representasi Allah, bukanlah hal yang main-main. Karena sejatinya, apa pun yang kita lakukan di muka bumi ini adalah “mewakili”Nya. Mewakili sifat Rahman dan RahimNya. Mewakili sifat kasih dan sayangNya. Bukan yang lain.

Sehingga, siapa pun yang mengaku tengah menjalankan amanat Tuhan, tapi tindakannya jauh dari sifat rahman dan rahim, saya cenderung khawatir bila sesungguhnya ia sedang dikuasai hawa nafsunya.

#Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali Muhammad.

Dula dan Sekarang

Standar

infidel_kafir_baseball_baseball_cap

Foto ilustasi diambil dari CafePress

Bila dulu zaman Rasul para sahabat berlomba-lomba memasukkan orang ke dalam Islam dengan memberikan perilaku mendamaikan (akhlak yang baik). Tapi sekarang malah sebaliknya–banyak orang justru berlomba-lomba mengeluarkan orang yang sudah ber-Islam melalui cap “kafir”, cap “musyrik”, cap “syiah”, cap “bid’ah”, dan lainnya.

Bila dulu zaman Rasul para sahabat berusaha berteman dengan sejelek-jeleknya orang, guna mencari kebaikannya. Namun di zaman sekarang malah sebaliknya. Sebaik-baiknya orang, masih saja dicari kejelekannya untuk dikuliti kebaikannya.

*Tanpa kelembutan, orang akan lari menjauh dari Islam. Sebagaimana tercantum dalam QS Ali Imran [3]: 159: “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu.”