KEHADIRAN HATI

Standar

Sering kita mengaku cinta, rindu, dan ingin bertemu dengan yang dicinta (Tuhan). Namun, saat tiba waktunya untuk bertemu (shalat), kita malah asyik pada dunianya sendiri, lalu lupa bahwa kita tengah menghadap Dia Sang Mahacinta.

Padahal, kehadiran hati (khusyuk) adalah ruhnya shalat. Tanpa kehadiran hati, sia-sialah apa yang sudah kita lakukan. Bahkan dengan tegas, Quran memberi aba-aba, “Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (QS Al-Maun: 4-5).

Dan, sayangnya, kehadiran hati ini bukan hanya penting dan “diharuskan” dalam shalat sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsir quran bil quran-nya. Tapi juga, kehadiran hati ini merambah ke semua aspek kehidupan.

Alih-alih kita dilahirkan dan mendapatkan label “hidup”. Tanpa kehadiran hati, kita hanyalah cangkang. Hidup tak memiliki daya gerak sama sekali seperti mayit.

Ya, betapa banyak di antara kita, yang jasadnya hadir di ruang pertemuan keluarga, namun hati dan pikiran kita melayang entah ke dunia antah berantah nun jauh di sana. Betapa banyak, mata kita bertemu dengan sorot mata yang lain, namun tangan kita malah sibuk memainkan keypad HP. Entah di rumah? Di kantor? Di kereta?

Wallahu a’lam bishhowab.

BAHAN DASAR ASI

Standar

13-manfaat-memberikan-asi-eksklusif-alodokter

Gambar diambil dari Alodokter

Menjadi seorang ibu baru itu amat sangat dilema. Betapa tidak, di sisi lain, ia ingin memberikan yang terbaik bagi si buah hati melalui pemberian asi eksklusif. Tapi di sisi lain, untuk mendapatkan asi eksklusif sungguh tidaklah mudah. Penuh perjuangan dan godaan.

Pemicunya banyak! Dari mulai rasa sakit pasca melahirkan, capek begadang terus karena menyesuaikan dengan pola tidur bayi, sampai lelah pikiran karena dengerin omongan sana-sini yang nanya, “Kok ASI-mu gak keluar banyak? Kamu salah makan kali, kamu kurang jamu kali, dan bla bla bla”.

Padahaaal, percaya atau tidak, sakit seberat apa pun akan dilakukan sang Ibunda demi agar bisa memenuhi kebutuhan Asi sang buah hati. Puting lecet dan bengkak pun seolah jadi teman sehari-hari bagi para Busui pasca melahirkan.

Alhasil, emosi tingkat dewa lah bagi para Busui. Rasanya pengen marrraah semarah-marahnya kalau ada yang membahas tentang Asi. Kadang, suka ngiri juga kalau “tetangga” sono bisa menghasilkan Asi melimpah. Hiks, sakitnya tuh di sini 😀. Sehingga, sadar atau tidak, hal inilah yang justru menjadikan Asi malah seret bin mampet. Kenapa?

Karena, Tuhan sepertinya sudah mafhum dengan kebutuhan makhluk-Nya, termasuk bagi sang jabang bayi–bahkan sudah sejak masih berada dalam kandungan Ibundanya. Dia, Tuhan Sang Maha Cinta, sudah jauh-jauh hari menyiapkan salah satu hormon, yang dengannya kita bisa menghasilkan Asi melimpah. Sehingga, tugas kita—sebetulnya “hanya” berusaha memancing agar apa yang sudah disediakan Tuhan itu dapat keluar dari “sarangnya”.

Apa yang sudah disediakan Tuhan dan bagaimana cara memancingnya?

Apalagi kalau bukan hormon oksitosin? Hormon cinta. Hormon kasih. Hormon bahagia. Dan, hormon ini sebetulnya mudah didapat dan tidak membutuhkan biaya yang melimpah, karena sudah disediakan Tuhan toooh. Kita tinggal menggalinya “saja”. Namuuun, yah namanya juga manusia. Kadang lupa dan memang karena sibuk ngurus yang di luar, jadi lupa sama apa yang tersedia di dekat kita. Bahagia.

Ya, bahagia—sebagaimana banyak peneliti telah membuktikannya—nyatanya merupakan bahan dasar “pembuatan” Asi. Sehingga, makin bahagia Busui, makin melimpah pula Asi yang diperoleh. Itu sebabnya, semahal dan sebagus apa pun kandungan dalam sufor, ia tidak bisa menggantikan kandungan asi—yang sudah dirancang sedemikian hebat oleh Tuhan yang Maha Kasih.

Oleh karena itu, untuk bisa menghasilkan Asi melimpah, kita tidak perlu kaya! Tidak juga perlu mengonsumsi makanan beraneka ragam yang mahal harganya. Atau, tidak juga harus minum booster Asi ini-itu–yang bahkan nama dan istilah-istilahnya belum kita kenal sebelumnya.

Bagi para Busui, yang rentan sekali dalam kondisi lelah pasca melahirkan, Tuhan hanya mensyaratkan satu hal. Yakni, bahagia. Makanan yang enak mungkin saja bisa bikin Busui bahagia. Belanja barang-barang kesukaan kita juga sangat mungkin bisa menjadi booster bagi para Busui. Atau, konsumsi obat-obatan tertentu juga bisa sangat mungkin menyebabkan Asi kita melimpah.

Namun, hal yang perlu diingat bahwa tidak semua orang yang melakukan hal di atas bisa serta merta mendapatkan “hormon” bahagia, bahkan malah makin frustasi karena Asi yang diidam-idamkan tak kunjung melimpah. Dan, betapa banyak orang yang hidup di emper jembatan, jauh dari kata layak tetapi justru malah bisa tertawa puas, bahagia, dan karenanya dapat merangsang agar Asi keluar dari sarangnya.

Lalu, apa itu bahagia? Bahagia–seperti apa yang diungkapkan dr. Haidar Bagir dalam Risalah Cinta dan Kebahagiaan, kadang diartikan salah kaprah. Apa yang menjadi “perantara” bahagia diartikan sama dengan kebagaiaan itu sendiri. Bila untuk bahagia, kita tidak membutuhkan apa pun, kecuali kesiapan hati untuk mengatakan “Selamat Datang, Duhai Kebahagiaan” pada diri sendiri. Sementara “perantara” bahagia itu banyak, seperti, makan makanan enak bin mahal, rumah luas nan megah, belanja barang-barang branded, dan berbagai unsur materi lainnya. Sehingga, kebahagiaan, yang seringkali diidam-idamkan banyak orang–termasuk para Busui–sejatinya begitu mudah diraih, dan semua orang bisa meraihnya!

Sayangnya, kita kadang lupa menilai makna bahagia, sehingga terus saja berfokus pada apa yang ada di luar diri kita, dan luput menilai apa-apa yang ada di dalam diri kita.

So, bagi para Busui, yuk jangan sampai lupa untuk mengucapkan “selamat datang, Duhai Kebahagiaan” pada diri sendiri .

 

#WorldBreastfeedingWeek
#MenyusuiDenganCinta
#DukungBusui

@tipsmenyusui

 

Setiap Hari Kamu Sarapan Apa?

Standar
Suatu ketika, Kakak Tertua kami bertanya, “Setiap hari kamu … kalian … sarapan apa?”
 
Dengan polos di antara kami, adik-adiknya pun menjawab, “Saya sarapan lontong sayur, Kang,”
“Saya gorengan,” ujar yang lainnya.
“Saya bubur ayam, Kang.”
 
Sembari tersenyum Kakak Tertua kami menjawab, “Kalau itu mah sarapannya makhluk jasadiah tok. Nah, kamu ini … kalian ini kan makhluk jasadiah sekaligus ruhiah. Masak sarapannya jasadiah tok.”
 
Kami pun plonga-plongo. “Maksudnya, Kang?”
 
Itu loh… yang namanya sarapan bagi manusia itu ya harus imbang. ya, jasadiahnya… ya juga ruhiahnya. Namun karena manusia bila jasadiahnya hancur, dan yang dipertanggungjawabkan ruhiahnya, ya dahulukan sarapan yang bersifat ruhiah. Apa itu? Ya, shalat duha dulu lah sebelum mengkonsumsi makanan. Bersyukur dulu lah pada Tuhan yang memberikan hidangan jasadiah sebelum menyantapnya.
 
Atau, sedekah seperak dua perak dulu lah sebelum menyedekahi isi perut.
 
Dan, terserah kamu, kalian … mau sarapan ruhiah apa saja … agar imbang hidup sebagai manusia.
 
Tanpa ba-bi-bu lagi, kami pun mengamini nasihat Kakak Tertua. Sembah suwun, Kang atas nasihatnya.

Ciri Hati yang Hidup

Standar

Ada beberapa ciri hati yang hidup. Yang pertama, bila Allah memanggil, hati kita langsung menyahut. Lewat cara apa Allah memanggil? Lewat pintu kesedihan, kenestapaan, penderitaan, maksiat, kesenangan. Namun, sedikit sekali orang yang merasa dipanggil Tuhan kala hati tengah bahagia, atau bahkan maksiat.

Kedua, bila Rasul memanggilmu. Dengan cara apa Rasul memanggil? Lewat perantara orang lain yang menyebutkan nama beliau. Kala orang lain bershalawat untuk beliau, hatimu akan langsung menyahut dengan membacakan shalawat atasnya.

Ketiga, kala kitab sucimu memanggil. Dengan cara apa kitabmu memanggil? Dengan cara bila dibacakan kepada telingamu kalamNya, hatimu langsung bisa menyahut dan melanjutkan bunyi ayat-ayatNya. Ingat lho, ayat Tuhan bukan hanya ada dalam lembaran, tapi juga banyak ayat yang tersebar di seantero jagad raya.

 

Wallahu a’lam bishhowab.

RAHMAT ALLAH DATANG TIAP DETIK

Standar

Setiap hari, bahkan setiap detik Allah menitipkan segenggam rahmat bagi siapa saja makhluk yang Dia kehendaki. Entah itu rahmat yang dibungkus melalui kesenangan, kesedihan atau bahkan maksiat. Namun kadang, saking tebalnya penghalang antara hati si hamba dengan sang Khalik … kesempatan yang amat sangat berharga itu pun terlewat—begitu saja.

 

*Pada dasarnya manusia itu sempurna. Namun karena tindakan dirinya sendiri yang mengabaikan rahmat Tuhan, ia pun kelak akan direndahkan ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali mereka yang menyambut keimanan sebagai hadiah terindah dari Tuhannya dan mengimplementasikannya lewat kebajikan.  (Tafsir Surat At-Tin ayat 4-6)

Sabar … Menunggu Jodoh itu Ibarat Menunggu Angkot

Standar

kata-allah-jodohku-lagi-otw-300x300

Ilustrasi gambar diambil dari Gambar Kata

“Kenapa ya Mbak, angkotnya kok lama banget datangnya. Udah kayak nunggu jodoh aja!” Begitu kira-kira celetukan rekan kerja saya di suatu sore di sela-sela waktu saat kami sama-sama menunggu angkutan kota (Angkot)  yang sama sepulang dari kantor, yang kemudian disusul dengan gelak tawa kami berdua.

Waduh, jodoh kok disamain kayak nunggu angkot! Begitu kira-kira batinku memprotes. Tapi, setelah sejenak saya merenung, memang benar jodoh itu persis seperti menunggu angkot. Selama tujuan kita jelas, selama kita tahu dan paham hendak menuju ke mana, angkot yang kita tunggu pun pasti datang juga. Berapa pun lamanya kita menunggu, selama angkot yang kita tunggu tepat sasaran, tepat tempatnya di mana kita menunggu pasti datanglah juga. Berbeda bila kita menunggu di jam dan tempat yang salah, tentu sampai kapan pun kita menunggu angkot takkan pernah menghampiri.

Misal kita menunggu angkot jurusan Ragunan, namun kita menunggu angkot jurusan Ciputat. Ya, jelas takkan pernah sampai angkot itu di hadapan kita. Kalaupun mau, kita harus menyamakan dulu dengan jurusan si supir angkot. Yakni, dengan naik jurusan Ciputat lalu turun di pemberhentian lain, dan kemudian naik angkot yang benar-benar jurusan Ragunan. Sayangnya, jalur ke Ciputat dulu baru ke Ragunan ini tentu akan menghabiskan banyak waktu. Juga tenaga dan biaya. Kalau ada yang langsung ke Ragunan, mengapa kita harus muter-muter dulu?

Pun dengan menunggu jodoh. Kadang, mengapa jodoh kita terlalu lama tak datang bukan karena kita tidak ditakdirkan berjodoh, namun dikarenakan kita salah “tempat” saja. Salah “sasaran” saja. Kita menunggu orang yang salah. Kita menghabiskan waktu bersama orang yang salah.

Atau, bisa jadi karena selama ini kita kurang jelas ingin berjodoh dengan orang seperti apa. Gambaran jodoh yang kita mau seperti apa ini sangat penting, karena kelak akan berpengaruh pada perilaku kita ke depan saat menentukan hendak berjodoh dengan siapa. Jangan sampai kita hendak berjodoh dengan artis ternama, dengan orang terkaya, dengan ia yang saleh-salehah, namun diri ini belum atau tidak memantaskan diri untuk menjadi yang “sesuai”/ “sekufu” dengan jodoh yang kita harapkan. Ibarat kata, kita ingin ke Solo, namun jurusan bis yang kita ambil  justru arah ke Surabaya.

Dan, bisa jadi karena di sisi lain kita “keukeuh” ingin menikah. Namun di sisi lain, perilaku kita jauh dari apa-apa yang menghantarkan kita pada terwujudnya niat suci. Dan, karena pernikahan adalah sesuatu yang suci, maka sejatinya ia hanya bisa didekati juga dengan cara-cara yang suci.

Lalu mengapa kita memprotes Tuhan dikarenakan sudah lama menunggu? Bukankah masalahnya ada di diri kita? Bukankah kita yang telah salah menunggu “jurusan”? So, kalau Anda ingin menikah, pastikan bahwa jurusan yang Anda tunggu sudah sesuai dengan jurusan yang kita tuju.

Wallahu a’lam bishshowaab.

Tuhan Tak Pernah Menuntut Sukses

Standar

images

Ilustrasi diambil dari HARMONAS

Di saat hampir semua orang mengejar apa yang dinamakan posisi puncak kehidupan, SUKSES, maka saya berusaha merekonstruksi pemikiran saya tentang apa makna “sukses” itu sendiri. Apakah benar, sukses adalah akhir dari segala peluh keringat kita di dunia? Apakah benar yang mesti kita kejar—dengan menghabiskan waktu yang singkat kala singgah di bumi-Nya–adalah hanya agar kita berada di posisi “sukses”?

Jika iya, saya kemudian berpikir, owh Tuhan … betapa sempitnya “tujuan” hidup ini. Hanya untuk sukses? Sukses? Sukses? Sukses? Saya terus berusaha merapal kata-kata itu bak doa harian yang kupanjatkan setiap hendak menjelang tidur.

Lalu, entah bagaimana tetiba muncul pertanyaan nakal di benak saya. “Tuhan, apakah Engkau mau saya sukses? Apakah Engkau menghendaki saya sukses? Jika iya, sukses yang bagaimana yang Kau maksud? Jika tidak, ah, betapa saya selama ini telah salah besar mengenal “tujuan” hidup saya—untuk sukses.

Buku “Tuhan Tak Pernah Menuntut Sukses” pun pada akhirnya saya tulis—dengan tujuan untuk mengeluarkan sederet pertanyaan sekaligus jawaban akan sebagian perenungan saya terkait “sukses”.

Semoga buku ini (juga) bisa menjawab kegelisahan teman-teman, terutama bagi yang masih mengejar “sukses” sebagai tujuan hidup—yang fana ini.