Pesan Nabi terhadap Takfirin

Standar

Beberapa hari ini, saya (kok) merasa prihatin dan juga (sedih) dengan maraknya golongan, atau juga per orangan yang begitu mudah menyebut saudara sesama Muslim dengan panggilan kafir (takfirin). Padahal, jauh … jauh sekali sebelum kita lahir, Rasul Saw. sudah mewanti-wanti pada umatnya untuk tidak mudah memberi cap “KAFIR”. Sebab, tampaknya Rasul tahu betul bahwa kita sama sekali tidak berhak memberikan cap itu.

Hal ini bisa dilihat dari salah satu ayat, yang dengan jelas menyebutkan bahwa hanya Allahlah yang tahu siapa orang-orang yang layak masuk dalam golongan “lurus”.

Katakanlah (hai Muhammad), “Biarlah setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, karena Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih lurus jalan yang ditempuhnya.” (QS Al-Isra’ : 84)

Itu baru satu ayat, dan masih banyak lagi ayat yang–baik implisit maupun eksplisit–membahas tentang hal serupa.

Pun begitu dengan sederet hadis yang memerintahkan agar kita berhati-hati dalam memberi cap itu. Misalnya:

“Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya di dua tempat; kitab Al Manaqib, Bab Nisbatul Yaman Ila Isma’il, hadits no. 3317 dan kitab Al Adab, Bab Ma Yanha Minas Sibab Wal La’ni, hadits no. 5698 dan Imam Muslim dalam shahihnya, kitab Al Iman, Bab Bayan Hali Iman Man Raghiba An Abihi Wahua Ya’lam, hadis no. 214.)

“Tiga hal yang menjadi dasar Iman, (pertama) adalah mencegah diri untuk tidak menyakiti orang yang mengucapkan tiada Tuhan selain Allah. Kita tidak mengkafirkannya karena sebuah dosa dan tidak mengeluarkannya karena sebuah dosa dan tidak mengeluarkanya karena sebuah amqal (amal). (Kedua), jihad telah berlaku sejak Allah mengutusku hingga nanti umatku yang paling akhir memerangi dajjal. Kedzaliman orang yang dzalim maupun keadilan orang yang adil tidak akan dapat menghalanginya. (ketiga), iman kepada berbagai takdir.” (HR. Abu Dawud)

“Jika seseorang mengatakan kepada saudaranya (sesama Muslim) “hai kafir” maka salah satu di antara keduanya akan kufur.” (HR.Bukhari)

“Barangsiapa yang melaknat seorang Mukmin, maka dia seperti membunuhnya dan barangsiapa yang menyatakan seorang Mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR Bukhari VII/84 dari Tsabit bin Dhihah).

Bahkan, dalam suatu riwayat yang dikutip Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulum Al-Din, dijelaskan bahwa Rasul Saw. sangat marah ketika seorang sahabat beliau membunuh seorang non-Muslim yang, ketika dihunuskan pedang, sang kafir tersebut mengucap syahadat.

Sahabat berdalih, sengaja membunuhnya karena beranggapan bahwa orang tersebut terlambat mengucap syahadat.

Mendengar itu, Rasul Saw. membalikkan badan seraya mengucap, “Mengapa tidak kau belah saja dada orang ini agar kamu tahu, apa yang ada di dalam dadanya.”

Lalu, jika Rasul (saja) begitu hati-hati dalam memberi cap kepada saudara sesama Muslim–bahkan orang yang baru bersyahadat ketika “ditawarkan” pedang, masih beranikah kita bersikap angkuh melebihi Baginda Rasul?
Bukankah dalam Al-Quran, jelas adanya larangan melebihi suara Rasul?
Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadarinya. (QS Al-Hujurat: 2)

Wallahu a’lam bishshowab.

Iklan

Indonesia: Negara yang Memanusiakan Manusia

Standar

“Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Peribahasa ini menurut saya sangat mewakili kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo, atau dalam bahasa agama disebut negara yang “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur”, oleh sebagian penghuninya dilihat sebelah mata. Bahkan, dalam salah satu diskusi kami tentang pentingnya memandang “Indonesia”, para “aktivis” itu begitu berapi-api meng”idola”kan negeri seberang, lalu menyebut Indonesia sebagai negara yang tidak atau kurang “maju”. Bagi mereka, Indonesia tak ubahnya seperti pasar tumpah—yang penuh lumpur dan debu—dan karenanya sudah seharusnya berbenah memperbaiki diri dalam segala hal. Bersolek dari mulai transportasi hingga “model” kehidupannya.

Tak hanya itu, sistem negara pun ikut dikritisinya. Katanya, kalau mau maju dan menyejahterakan rakyatnya, Indonesia harus meniru sistem pemerintahan di luar nun jauh di sana. Dan, karena Islam sebagai agama terbesar di negeri ini maka Islam pulalah yang seharusnya memimpin—seperti halnya di Saudi sana. Untuk cita-cita ini, sistem kekhalifahan pun pada akhirnya—menurut mereka—menjadi solusi.

Ah, Teman … percayalah bahwa negara yang kalian idam-idamkan sistemnya untuk diadopsi oleh bangsa kita ini sejatinya tidak lebih baik dari sistem negara kita. Kalian memandang bahwa Indonesia terlihat jauuuh tertinggal dari negara-negara lain, bahkan yang ada di sebelahnya. Namun, Teman … jangan hanya melihat Indonesia dari tampilan fisik semata. Jangan melihat Indonesia dari sederet keruwetan fasilitas negaranya saja. Jangan memandang Indonesia hanya dari dalam negeri saja. Lihatlah Indonesia secara keseluruhan!

Sesekali pergilah ke luar zona kita. Lihatlah dunia dan coba bandingkan dengan segala pernik kehidupan negeri kita yang unik dan mengagumkan ini. Sekali lagi, jangan bandingkan Indonesia hanya dari fisiknya saja. Lihatlah Indonesia secara keseluruhan. Sebagaimana kau melihat “gajah” secara sempurna. Bukan hanya belalainya saja. Bukan hanya kakinya saja, bukan hanya punggungnya saja. Lihat keseluruhannya, dan pasti kan kau temukan kesempurnaan ciptaan-Nya.

Pun begitu dengan caramu seharusnya dalam melihat Indonesia. Keluarlah ke negeri di luar sana. Bila perlu, menetaplah barang setahun dua tahun untuk melihat kehidupan sejati di negara yang kau puja itu. Lalu bandingkan bagaimana “kehidupan” di antara keduanya. Mengapa?

Karena, puji Tuhan, saya pernah menetap di Saudi selama beberapa tahun. Dan, dari sanalah perasaan cinta terhadap negeri sendiri muncul. Dari sanalah saya menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang banyak diidolakan oleh negeri luar sana. Lantas, mengapa kita justru mengidolakan negeri lain?

Teman … Indonesia yang kutinggalkan adalah Indonesia yang kurindu—sepenuh jiwa. Bukan hanya rindu pada keluarga karena jauh dari mereka, tapi juga pernik kehidupan Indonesia—yang dulu sempat kupandang sebelah mata.

Makanan kami saat di Saudi begitu terjamin, semua ada! Bahkan dari makanan khas Saudi sampai makanan dari berbagai negara lain tersedia! Begitu pun kehangatan keluarga. Meski jauh dari negeri sendiri, di sana saya mendapatkan keluarga baru yang tak kalah membahagiakan. Bahkan, saking dekatnya, pasca saya kembali ke Indonesia, mereka masih saja berharap saya bisa kembali. Dan, tawaran yang selalu menggiurkan adalah—selain kehidupan ekonomi (dari tempat tinggal hingga makanan) saya dijamin, fasilitas kesehatan gratis, mereka pun membebaskan saya untuk menempuh studi, dan itu free.

Ah, Indonesia tetap menjadi pilihan hidup saya! Meski makan seadanya, meski tinggal di gubuk reyot, meski hampir dikatakan serba susah dalam hal pemenuhan fasilitas hidup, Indonesia tetap aku puja.

Selain Saudi, saya juga pernah menginjakkan kaki ke negara lain seperti Yordania, Oman, Syiria, Lebanon, Qatar, Palestina, Singapura, dan Amerika. Dan, itu free dari kafil/kafilah saya waktu di Saudi! (Ah, betapa beruntungnya saya bermukim di kediaman mereka. Status Pembantu Rumah Tangga mengajarkan saya betapa luasnya karunia Tuhan pada makhluk-Nya.). Dan, Indonesia tetap istimewa di mata saya. Bukan Yordania, Oman, Syiria, Lebanon, Qatar, Palestina, Singapura, atau Amerika! Indonesia! Indonesia! Dan, Indonesia!

Teman … ingatkah (tahukah) kalian bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang “mengizinkan” adanya tradisi diskusi bahkan “pengajian” hingga larut malam—tanpa “pengawalan ketat” para aparat?

Ingatkah (tahukah) kalian bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang disebut “jannin”, indah surgawi, oleh sebagian besar masyarakat Arab Saudi? Karena alasan ini pula, banyak masyarakat sana yang selalu menyempatkan waktu liburan untuk berkunjung ke Indonesia! Bukan Eropa atau Amerika!

Ingatkah (tahukah) kalian bahwa meski Indonesia mendapat peringkat tanah tersubur ke-11 di dunia, tapi Indonesia lah yang memiliki pulau tersubur di dunia, yakni Pulau Jawa. Hal ini wajar, karena Jawa memiliki banyak gunung berapi aktif. Dan, gunung berapi aktif inilah yang konon memiliki kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Sehingga, –masih secara logika awam saya—masyarakat Indonesia tak perlu khawatir masalah kekurangan pangan. Toh, Indonesia memiliki “lumbung” yang tidak dipunyai negara lain!

Itulah sederet alasan singkat saya mengapa TETAP MEMILIH INDONESIA. Sebuah kenyamanan yang tidak bisa didapatkan dari negara mana pun. Sebuah kenyamanan yang didapat dari hasil menempatkan manusia pada posisinya sebagai manusia! Inilah poin yang sangat penting dalam kehidupan manusia—bahkan dalam berbangsa dan bernegara! Memanusiakan manusia! Wallahu a’lam bissho-wab. []

 

 

BAHAN DASAR ASI

Standar

13-manfaat-memberikan-asi-eksklusif-alodokter

Gambar diambil dari Alodokter

Menjadi seorang ibu baru itu amat sangat dilema. Betapa tidak, di sisi lain, ia ingin memberikan yang terbaik bagi si buah hati melalui pemberian asi eksklusif. Tapi di sisi lain, untuk mendapatkan asi eksklusif sungguh tidaklah mudah. Penuh perjuangan dan godaan.

Pemicunya banyak! Dari mulai rasa sakit pasca melahirkan, capek begadang terus karena menyesuaikan dengan pola tidur bayi, sampai lelah pikiran karena dengerin omongan sana-sini yang nanya, “Kok ASI-mu gak keluar banyak? Kamu salah makan kali, kamu kurang jamu kali, dan bla bla bla”.

Padahaaal, percaya atau tidak, sakit seberat apa pun akan dilakukan sang Ibunda demi agar bisa memenuhi kebutuhan Asi sang buah hati. Puting lecet dan bengkak pun seolah jadi teman sehari-hari bagi para Busui pasca melahirkan.

Alhasil, emosi tingkat dewa lah bagi para Busui. Rasanya pengen marrraah semarah-marahnya kalau ada yang membahas tentang Asi. Kadang, suka ngiri juga kalau “tetangga” sono bisa menghasilkan Asi melimpah. Hiks, sakitnya tuh di sini 😀. Sehingga, sadar atau tidak, hal inilah yang justru menjadikan Asi malah seret bin mampet. Kenapa?

Karena, Tuhan sepertinya sudah mafhum dengan kebutuhan makhluk-Nya, termasuk bagi sang jabang bayi–bahkan sudah sejak masih berada dalam kandungan Ibundanya. Dia, Tuhan Sang Maha Cinta, sudah jauh-jauh hari menyiapkan salah satu hormon, yang dengannya kita bisa menghasilkan Asi melimpah. Sehingga, tugas kita—sebetulnya “hanya” berusaha memancing agar apa yang sudah disediakan Tuhan itu dapat keluar dari “sarangnya”.

Apa yang sudah disediakan Tuhan dan bagaimana cara memancingnya?

Apalagi kalau bukan hormon oksitosin? Hormon cinta. Hormon kasih. Hormon bahagia. Dan, hormon ini sebetulnya mudah didapat dan tidak membutuhkan biaya yang melimpah, karena sudah disediakan Tuhan toooh. Kita tinggal menggalinya “saja”. Namuuun, yah namanya juga manusia. Kadang lupa dan memang karena sibuk ngurus yang di luar, jadi lupa sama apa yang tersedia di dekat kita. Bahagia.

Ya, bahagia—sebagaimana banyak peneliti telah membuktikannya—nyatanya merupakan bahan dasar “pembuatan” Asi. Sehingga, makin bahagia Busui, makin melimpah pula Asi yang diperoleh. Itu sebabnya, semahal dan sebagus apa pun kandungan dalam sufor, ia tidak bisa menggantikan kandungan asi—yang sudah dirancang sedemikian hebat oleh Tuhan yang Maha Kasih.

Oleh karena itu, untuk bisa menghasilkan Asi melimpah, kita tidak perlu kaya! Tidak juga perlu mengonsumsi makanan beraneka ragam yang mahal harganya. Atau, tidak juga harus minum booster Asi ini-itu–yang bahkan nama dan istilah-istilahnya belum kita kenal sebelumnya.

Bagi para Busui, yang rentan sekali dalam kondisi lelah pasca melahirkan, Tuhan hanya mensyaratkan satu hal. Yakni, bahagia. Makanan yang enak mungkin saja bisa bikin Busui bahagia. Belanja barang-barang kesukaan kita juga sangat mungkin bisa menjadi booster bagi para Busui. Atau, konsumsi obat-obatan tertentu juga bisa sangat mungkin menyebabkan Asi kita melimpah.

Namun, hal yang perlu diingat bahwa tidak semua orang yang melakukan hal di atas bisa serta merta mendapatkan “hormon” bahagia, bahkan malah makin frustasi karena Asi yang diidam-idamkan tak kunjung melimpah. Dan, betapa banyak orang yang hidup di emper jembatan, jauh dari kata layak tetapi justru malah bisa tertawa puas, bahagia, dan karenanya dapat merangsang agar Asi keluar dari sarangnya.

Lalu, apa itu bahagia? Bahagia–seperti apa yang diungkapkan dr. Haidar Bagir dalam Risalah Cinta dan Kebahagiaan, kadang diartikan salah kaprah. Apa yang menjadi “perantara” bahagia diartikan sama dengan kebagaiaan itu sendiri. Bila untuk bahagia, kita tidak membutuhkan apa pun, kecuali kesiapan hati untuk mengatakan “Selamat Datang, Duhai Kebahagiaan” pada diri sendiri. Sementara “perantara” bahagia itu banyak, seperti, makan makanan enak bin mahal, rumah luas nan megah, belanja barang-barang branded, dan berbagai unsur materi lainnya. Sehingga, kebahagiaan, yang seringkali diidam-idamkan banyak orang–termasuk para Busui–sejatinya begitu mudah diraih, dan semua orang bisa meraihnya!

Sayangnya, kita kadang lupa menilai makna bahagia, sehingga terus saja berfokus pada apa yang ada di luar diri kita, dan luput menilai apa-apa yang ada di dalam diri kita.

So, bagi para Busui, yuk jangan sampai lupa untuk mengucapkan “selamat datang, Duhai Kebahagiaan” pada diri sendiri .

 

#WorldBreastfeedingWeek
#MenyusuiDenganCinta
#DukungBusui

@tipsmenyusui

 

Setiap Hari Kamu Sarapan Apa?

Standar
Suatu ketika, Kakak Tertua kami bertanya, “Setiap hari kamu … kalian … sarapan apa?”
 
Dengan polos di antara kami, adik-adiknya pun menjawab, “Saya sarapan lontong sayur, Kang,”
“Saya gorengan,” ujar yang lainnya.
“Saya bubur ayam, Kang.”
 
Sembari tersenyum Kakak Tertua kami menjawab, “Kalau itu mah sarapannya makhluk jasadiah tok. Nah, kamu ini … kalian ini kan makhluk jasadiah sekaligus ruhiah. Masak sarapannya jasadiah tok.”
 
Kami pun plonga-plongo. “Maksudnya, Kang?”
 
Itu loh… yang namanya sarapan bagi manusia itu ya harus imbang. ya, jasadiahnya… ya juga ruhiahnya. Namun karena manusia bila jasadiahnya hancur, dan yang dipertanggungjawabkan ruhiahnya, ya dahulukan sarapan yang bersifat ruhiah. Apa itu? Ya, shalat duha dulu lah sebelum mengkonsumsi makanan. Bersyukur dulu lah pada Tuhan yang memberikan hidangan jasadiah sebelum menyantapnya.
 
Atau, sedekah seperak dua perak dulu lah sebelum menyedekahi isi perut.
 
Dan, terserah kamu, kalian … mau sarapan ruhiah apa saja … agar imbang hidup sebagai manusia.
 
Tanpa ba-bi-bu lagi, kami pun mengamini nasihat Kakak Tertua. Sembah suwun, Kang atas nasihatnya.

Ciri Hati yang Hidup

Standar

Ada beberapa ciri hati yang hidup. Yang pertama, bila Allah memanggil, hati kita langsung menyahut. Lewat cara apa Allah memanggil? Lewat pintu kesedihan, kenestapaan, penderitaan, maksiat, kesenangan. Namun, sedikit sekali orang yang merasa dipanggil Tuhan kala hati tengah bahagia, atau bahkan maksiat.

Kedua, bila Rasul memanggilmu. Dengan cara apa Rasul memanggil? Lewat perantara orang lain yang menyebutkan nama beliau. Kala orang lain bershalawat untuk beliau, hatimu akan langsung menyahut dengan membacakan shalawat atasnya.

Ketiga, kala kitab sucimu memanggil. Dengan cara apa kitabmu memanggil? Dengan cara bila dibacakan kepada telingamu kalamNya, hatimu langsung bisa menyahut dan melanjutkan bunyi ayat-ayatNya. Ingat lho, ayat Tuhan bukan hanya ada dalam lembaran, tapi juga banyak ayat yang tersebar di seantero jagad raya.

 

Wallahu a’lam bishhowab.

RAHMAT ALLAH DATANG TIAP DETIK

Standar

Setiap hari, bahkan setiap detik Allah menitipkan segenggam rahmat bagi siapa saja makhluk yang Dia kehendaki. Entah itu rahmat yang dibungkus melalui kesenangan, kesedihan atau bahkan maksiat. Namun kadang, saking tebalnya penghalang antara hati si hamba dengan sang Khalik … kesempatan yang amat sangat berharga itu pun terlewat—begitu saja.

 

*Pada dasarnya manusia itu sempurna. Namun karena tindakan dirinya sendiri yang mengabaikan rahmat Tuhan, ia pun kelak akan direndahkan ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali mereka yang menyambut keimanan sebagai hadiah terindah dari Tuhannya dan mengimplementasikannya lewat kebajikan.  (Tafsir Surat At-Tin ayat 4-6)

Sabar … Menunggu Jodoh itu Ibarat Menunggu Angkot

Standar

kata-allah-jodohku-lagi-otw-300x300

Ilustrasi gambar diambil dari Gambar Kata

“Kenapa ya Mbak, angkotnya kok lama banget datangnya. Udah kayak nunggu jodoh aja!” Begitu kira-kira celetukan rekan kerja saya di suatu sore di sela-sela waktu saat kami sama-sama menunggu angkutan kota (Angkot)  yang sama sepulang dari kantor, yang kemudian disusul dengan gelak tawa kami berdua.

Waduh, jodoh kok disamain kayak nunggu angkot! Begitu kira-kira batinku memprotes. Tapi, setelah sejenak saya merenung, memang benar jodoh itu persis seperti menunggu angkot. Selama tujuan kita jelas, selama kita tahu dan paham hendak menuju ke mana, angkot yang kita tunggu pun pasti datang juga. Berapa pun lamanya kita menunggu, selama angkot yang kita tunggu tepat sasaran, tepat tempatnya di mana kita menunggu pasti datanglah juga. Berbeda bila kita menunggu di jam dan tempat yang salah, tentu sampai kapan pun kita menunggu angkot takkan pernah menghampiri.

Misal kita menunggu angkot jurusan Ragunan, namun kita menunggu angkot jurusan Ciputat. Ya, jelas takkan pernah sampai angkot itu di hadapan kita. Kalaupun mau, kita harus menyamakan dulu dengan jurusan si supir angkot. Yakni, dengan naik jurusan Ciputat lalu turun di pemberhentian lain, dan kemudian naik angkot yang benar-benar jurusan Ragunan. Sayangnya, jalur ke Ciputat dulu baru ke Ragunan ini tentu akan menghabiskan banyak waktu. Juga tenaga dan biaya. Kalau ada yang langsung ke Ragunan, mengapa kita harus muter-muter dulu?

Pun dengan menunggu jodoh. Kadang, mengapa jodoh kita terlalu lama tak datang bukan karena kita tidak ditakdirkan berjodoh, namun dikarenakan kita salah “tempat” saja. Salah “sasaran” saja. Kita menunggu orang yang salah. Kita menghabiskan waktu bersama orang yang salah.

Atau, bisa jadi karena selama ini kita kurang jelas ingin berjodoh dengan orang seperti apa. Gambaran jodoh yang kita mau seperti apa ini sangat penting, karena kelak akan berpengaruh pada perilaku kita ke depan saat menentukan hendak berjodoh dengan siapa. Jangan sampai kita hendak berjodoh dengan artis ternama, dengan orang terkaya, dengan ia yang saleh-salehah, namun diri ini belum atau tidak memantaskan diri untuk menjadi yang “sesuai”/ “sekufu” dengan jodoh yang kita harapkan. Ibarat kata, kita ingin ke Solo, namun jurusan bis yang kita ambil  justru arah ke Surabaya.

Dan, bisa jadi karena di sisi lain kita “keukeuh” ingin menikah. Namun di sisi lain, perilaku kita jauh dari apa-apa yang menghantarkan kita pada terwujudnya niat suci. Dan, karena pernikahan adalah sesuatu yang suci, maka sejatinya ia hanya bisa didekati juga dengan cara-cara yang suci.

Lalu mengapa kita memprotes Tuhan dikarenakan sudah lama menunggu? Bukankah masalahnya ada di diri kita? Bukankah kita yang telah salah menunggu “jurusan”? So, kalau Anda ingin menikah, pastikan bahwa jurusan yang Anda tunggu sudah sesuai dengan jurusan yang kita tuju.

Wallahu a’lam bishshowaab.