RAHMAT ALLAH DATANG TIAP DETIK

Standar

Setiap hari, bahkan setiap detik Allah menitipkan segenggam rahmat bagi siapa saja makhluk yang Dia kehendaki. Entah itu rahmat yang dibungkus melalui kesenangan, kesedihan atau bahkan maksiat. Namun kadang, saking tebalnya penghalang antara hati si hamba dengan sang Khalik … kesempatan yang amat sangat berharga itu pun terlewat—begitu saja.

 

*Pada dasarnya manusia itu sempurna. Namun karena tindakan dirinya sendiri yang mengabaikan rahmat Tuhan, ia pun kelak akan direndahkan ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali mereka yang menyambut keimanan sebagai hadiah terindah dari Tuhannya dan mengimplementasikannya lewat kebajikan.  (Tafsir Surat At-Tin ayat 4-6)

Sabar … Menunggu Jodoh itu Ibarat Menunggu Angkot

Standar

kata-allah-jodohku-lagi-otw-300x300

Ilustrasi gambar diambil dari Gambar Kata

“Kenapa ya Mbak, angkotnya kok lama banget datangnya. Udah kayak nunggu jodoh aja!” Begitu kira-kira celetukan rekan kerja saya di suatu sore di sela-sela waktu saat kami sama-sama menunggu angkutan kota (Angkot)  yang sama sepulang dari kantor, yang kemudian disusul dengan gelak tawa kami berdua.

Waduh, jodoh kok disamain kayak nunggu angkot! Begitu kira-kira batinku memprotes. Tapi, setelah sejenak saya merenung, memang benar jodoh itu persis seperti menunggu angkot. Selama tujuan kita jelas, selama kita tahu dan paham hendak menuju ke mana, angkot yang kita tunggu pun pasti datang juga. Berapa pun lamanya kita menunggu, selama angkot yang kita tunggu tepat sasaran, tepat tempatnya di mana kita menunggu pasti datanglah juga. Berbeda bila kita menunggu di jam dan tempat yang salah, tentu sampai kapan pun kita menunggu angkot takkan pernah menghampiri.

Misal kita menunggu angkot jurusan Ragunan, namun kita menunggu angkot jurusan Ciputat. Ya, jelas takkan pernah sampai angkot itu di hadapan kita. Kalaupun mau, kita harus menyamakan dulu dengan jurusan si supir angkot. Yakni, dengan naik jurusan Ciputat lalu turun di pemberhentian lain, dan kemudian naik angkot yang benar-benar jurusan Ragunan. Sayangnya, jalur ke Ciputat dulu baru ke Ragunan ini tentu akan menghabiskan banyak waktu. Juga tenaga dan biaya. Kalau ada yang langsung ke Ragunan, mengapa kita harus muter-muter dulu?

Pun dengan menunggu jodoh. Kadang, mengapa jodoh kita terlalu lama tak datang bukan karena kita tidak ditakdirkan berjodoh, namun dikarenakan kita salah “tempat” saja. Salah “sasaran” saja. Kita menunggu orang yang salah. Kita menghabiskan waktu bersama orang yang salah.

Atau, bisa jadi karena selama ini kita kurang jelas ingin berjodoh dengan orang seperti apa. Gambaran jodoh yang kita mau seperti apa ini sangat penting, karena kelak akan berpengaruh pada perilaku kita ke depan saat menentukan hendak berjodoh dengan siapa. Jangan sampai kita hendak berjodoh dengan artis ternama, dengan orang terkaya, dengan ia yang saleh-salehah, namun diri ini belum atau tidak memantaskan diri untuk menjadi yang “sesuai”/ “sekufu” dengan jodoh yang kita harapkan. Ibarat kata, kita ingin ke Solo, namun jurusan bis yang kita ambil  justru arah ke Surabaya.

Dan, bisa jadi karena di sisi lain kita “keukeuh” ingin menikah. Namun di sisi lain, perilaku kita jauh dari apa-apa yang menghantarkan kita pada terwujudnya niat suci. Dan, karena pernikahan adalah sesuatu yang suci, maka sejatinya ia hanya bisa didekati juga dengan cara-cara yang suci.

Lalu mengapa kita memprotes Tuhan dikarenakan sudah lama menunggu? Bukankah masalahnya ada di diri kita? Bukankah kita yang telah salah menunggu “jurusan”? So, kalau Anda ingin menikah, pastikan bahwa jurusan yang Anda tunggu sudah sesuai dengan jurusan yang kita tuju.

Wallahu a’lam bishshowaab.

Tuhan Tak Pernah Menuntut Sukses

Standar

images

Ilustrasi diambil dari HARMONAS

Di saat hampir semua orang mengejar apa yang dinamakan posisi puncak kehidupan, SUKSES, maka saya berusaha merekonstruksi pemikiran saya tentang apa makna “sukses” itu sendiri. Apakah benar, sukses adalah akhir dari segala peluh keringat kita di dunia? Apakah benar yang mesti kita kejar—dengan menghabiskan waktu yang singkat kala singgah di bumi-Nya–adalah hanya agar kita berada di posisi “sukses”?

Jika iya, saya kemudian berpikir, owh Tuhan … betapa sempitnya “tujuan” hidup ini. Hanya untuk sukses? Sukses? Sukses? Sukses? Saya terus berusaha merapal kata-kata itu bak doa harian yang kupanjatkan setiap hendak menjelang tidur.

Lalu, entah bagaimana tetiba muncul pertanyaan nakal di benak saya. “Tuhan, apakah Engkau mau saya sukses? Apakah Engkau menghendaki saya sukses? Jika iya, sukses yang bagaimana yang Kau maksud? Jika tidak, ah, betapa saya selama ini telah salah besar mengenal “tujuan” hidup saya—untuk sukses.

Buku “Tuhan Tak Pernah Menuntut Sukses” pun pada akhirnya saya tulis—dengan tujuan untuk mengeluarkan sederet pertanyaan sekaligus jawaban akan sebagian perenungan saya terkait “sukses”.

Semoga buku ini (juga) bisa menjawab kegelisahan teman-teman, terutama bagi yang masih mengejar “sukses” sebagai tujuan hidup—yang fana ini.

Menipu Tuhan

Standar

index

Ilustrasi gambar diambil dari PlusQuotes

Kita sering mengaku cinta pada Tuhan.

Namun, tindakan kita kadang melenceng dari aturan.

 

Kita sering mengaku rindu pada Tuhan.

Namun, saat Dia menyeru (azan), kadang kita malah pura-pura sibuk dengan alasan pekerjaan.

 

Kita sering mengaku percaya (iman) pada Tuhan.

Namun, bila sedikit saja kuah rindu Tuhan datang menghampiri (musibah?), kadang kita sebut Tuhan tak hadir dalam kehidupan.

 

Kita sering mengaku ingin jumpa dan bercakap-cakap mesra dengan Tuhan.

Namun, surat cinta-Nya yang suci (Al-Quran) malah enggan kita pahami, dan lebih bangga bila telah sanggup menghafal nyanyian.

 

Ah, Tuhan …

Ternyata cintaku (mungkin) palsu dan penuh tipuan!

Ampuni … ampuni … ampuni kami bila tindakan jauh dari ucapan.

 

 

Salam Cinta,

Lina Sellin

Menjemput Jodoh

Standar

tuhan-tak-pernah-menuntut-sukses

Dulu… sebelum saya dipertemukan dengan sang jodoh, entah mengapa hati selalu berusaha “memaksa” Tuhan. Mendesak sang waktu agar mau berkompromi dengan keinginanku. Bahkan, di setiap doaku, selalu saja terucap kalimat bernada mengatur dan memaksa Tuhan.

“Tuhan, ayooolah… Kau bilang semua makhluk berjodoh, lalu mana jodohku? Tunjukkan Tuhan …. Jangan terlalu lama… aku sudah tua! Aku malu dengan keluarga dan rekan-rekanku! Please Tuhan, jangan biarkan aku hidup sendiri! Aku ingin menikah! Aku harus menikah, dengan siapa pun itu! Yang penting menikah.”

Begitulah kira-kira batinku merapal. Anehnya, semakin aku “memaksa Tuhan”, seolah perihal jodoh dijauhkan dariku. Meski beberapa orang datang melamar, dan aku “keukeuh” untuk meng-iya-kan”, tapi pada akhirnya Tuhan “menggagalkan.”

Ah, Tuhan… makin marahlah aku pada Tuhan. “Kenapa itu terjadi padaku?” Itulah pertanyaan mendasarku.

Waktu pun bergulir begitu saja. Tentu dengan kegelisahan terkait jodoh ada pada tingkat akut. Hingga suatu hari Tuhan membuka pikiran dan hatiku untuk berjalan sesuai kehendak-Nya. Kuikuti alur-Nya, dan hanya menyerahkan rindu pada Dia, Sang Maha Cinta.

Namun, kala titik itulah Tuhan justru seolah menguji kesetiaanku pada-Nya. Dia mempertemukanku dengan salah satu makhluk kecintaan-Nya. Kala itu pula hatiku seolah tertaut erat padanya. Dan, karenanya aku pun harus berani mengambil keputusan. Apakah menjemputnya, menjemput jodohku, atau “setia” pada Tuhan dengan jalan-jalan yang belum jua kumengerti sepenuhnya.

Rindu menumpuk, pada Tuhan juga pada makhluk-Nya, yang ingin sekali kusebut dia sang jodoh.

Alhasil, cintaku pada keduanya semakin “menggila”. Tapi, aku tetap tak bisa memilih! Aku tetap ingin keduanya. Sayangnya, bila hati ini terisi penuh dengan sang makhluk, maka lupalah aku pada Tuhan. Pun sebaliknya, bila aku sedang mesra bersama Tuhan, maka lupalah aku pada sang makhluk–yang juga ingin kupanggil sang jodoh.

Lalu, perenungan apa yang akhirnya membuatku memutuskan untuk merengkuh keduanya–Mencintai Tuhan sekaligus mencintai makhluk-Nya–dengan penuh cinta?

“Tuhan Tak Pernah Menuntut Sukses” adalah buku terbaruku yang berisi perenungan terkait bagaimana menjemput jodoh, dengan tanpa melupakan peran Tuhan di dalamnya. Insya Allah beredar di toko Gramedia seluruh Indonesia mulai 6 Maret 2017. Bagi yang ingin pesan melalui penulisnya langsung dan mendapat tanda tangannya, silakan menghubungi 089695203405.

#Ayooo segera jemput jodohmu!

Dulu …

Standar

serban.gif

Ilustrasi diambil dari Ibnu Mutallib

Bila dulu ia senang memakai peci dan serban untuk menunjukkan keislamannya, kini ia memilih menggunakan pakaian “oblong”.
#Pakaian tertentu bukan hanya membatasi dakwah, tapi juga bisa menimbulkan sikap “ujub lagi takabur”.

Bila dulu ia gemar berdakwah dari masjid ke masjid, kini ia memilih berdakwah di sudut jalanan.
#Mengenal dan memahami bahwa Islam bukan hanya di masjid. Tapi juga, “kolong jembatan”–yang kerap tak tersentuh kegiatan dakwah.

Bila dulu ia memilih ceramah di atas mimbar, kini ia memilih ceramah di atas rumput, bertemu berbagai ilalang.
#Ceramah di atas mimbar hanya menyentuh kalangan tertentu, tapi di atas rumput bisa menyentuh berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda.

Bila dulu ia semangat menggaungkan Islam dengan “garis pemisah yang tegas dan keras–halal haram (faqot/tok/plek)”, kini ia memilih menempatkan mubah dan syubhat di antaranya.
#Hukum bisa saja berubah, dengan melihat situasi dan kondisi. Pun begitu dengan pertanyaan yang sama terkait hukum, akan dijawab berbeda ketika berada dalam situasi yang berbeda pula.

Bila ia dulu memandang manusia lain dengan hitam-putih (saja). Kini ia melihat bahwa dunia ternyata penuh warna–di antara hitam dan putih, tentu ada warna lain seperti hijau, kuning, merah, dan sebagainya.
#Pun dengan berbagai aliran dalam Islam.

Kala Hari Itu Tiba

Standar

images-3

Ilustrasi ini diambil dari PENULISONLINE.COM

 

Suatu saat nanti, cepat atau lambat, kita semua akan mati. Terkubur tanah dan berselimutkan tanah. Berteman cacing dan berkawankan kecoa. Badan yang segar bugar pun harus rela berbagi dengan mereka. Tak bisa menolak, atau juga lari.

Pilihannya hanya satu, menerima segala apa saja yang datang kepadanya. Bila pun memberontak, itu sama saja berbicara kepada tembok. Karena, jangankan semut yang dulu pernah kau injak sanggup menolong, orang-orang terdekatmu yang dulu kau kira mencintai dan menyayangimu pun tengah sama-sama sibuk mengenali siapa sosok dirinya dan di mana kelak ia akan berlabuh, menemui Tuhan atau berbelok ke Jahanam karena “lupa diri” kala mampir di bumi-Nya.

Dalam kurun waktu tertentu, semuanya akan terus begitu, dan begitu hingga datang suatu masa di mana Israfil meniupkan Sang Sangkakala. Lalu, tersadarlah manusia bahwa kini saatnya ia dibangkitkan dalam kondisi telanjang bulat di Padang luas bernama Makhsyar.

“Wahai tubuh-tubuh yang telah hancur, tulang-belulang yang telah remuk, rambut-rambut yang beterbangan dan urat lehermu yang terputus! Bangkitlah kamu dari perut burung, dari perut binatang buas, dari dasar laut dan dari perut bumi ke perhimpunan Tuhan yang Maha Perkasa.”

Lantas mereka yang tengah sibuk mengenali siap sosok dirinya pun menyahut, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami yang ini (alam kubur)?”

Dan, kebingungan pun makin menggelayut di dada. Siapakah gerangan yang membangunkan mereka dengan bising suara yang memekakkan telinga. Masing-masing orang tak peduli siapa kawan dan siapa saudara. Siapa teman dan siapa sanak famili. Terus hilir mudik seorang diri tanpa sanggup menjawab sedang apa sebenarnya ia duduk dan mondar mandir di padang terluas ini. Terus begitu, hingga tak sadar bahwa dirinya telah berada dalam kebingungan selama ratusan atau bahkan puluhan ribu tahun! Duduk berhimpit seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya.

Juga, manusia dalam keadaan berbagai rupa. Ada yang buta. Ada juga yang cacat. Ada yang penuh luka bercampur darah dan nanah, dan ada juga yang sanggup tersenyum simpul, manis sekali. Semuanya akan tampak sebagaimana layaknya ia dulu hidup di dunia. Semua bentuk mereka tergantung pada amalnya masing-masing.

Ditambah lapar dan dahaga, ia terus mencari ke mana hendak pergi dan kepada siapa hendak melabuhkan iman.

Dan pada saat itu, teringatlah semua umat manusia akan Nabinya. Di mana Nabi yang dulu pernah diikutinya?

Mereka pun mencari dan mencari. Nabiku, di manakah engkau berada?

Dan, kala umat tengah sibuk mencari Nabinya, sang Nabi, yang sudah dibangkitkan dari kubur paling awal, pada hari tersebut, sebetulnya ketika bangkit sambil membuang tanah dari rambut dan janggut, beliau gelisah dan terus bertanya kepada Malaikat Jibril,
Di manakah umatku? Umatku …. umatku … di mana umatku, ya Jibril?

Begitu besar kerinduan Nabi kepada umatnya, bahkan menepis kerinduannya kepada keluarga dan kerabat dekat.

Allahu akbar. Bisa dibayangkan, Rasul yang demikian agung, saat pertama kali dibangunkan dari tidur panjang, beliau tidak bertanya di mana Khadijah, istriku? Di mana Fatimah, anakku? Di mana Ali, cucuku? Tetapi, dengan penuh gelisah beliau terus menyebut, umatku … di mana umatku?

Nabi sangat rindu ingin bertemu dengan umatnya. Oooh, alangkah terharu dan tersanjungnya kita, dirindu dan diinginkan jumpa oleh orang nomor satu di sejagat alam.

“Oh, di mana umatku?”

Jibril pun menjawab, “Wahai Muhammad! Umatmu adalah umat yang terakhir. Mereka berjalan dengan lambat dan perlahan.”

Mendengar jawaban itu, Muhammad, Nabi paling dicintai Allah itu kemudian menangis … dan terus menangis. Hingga tibalah suatu masa di mana Hari Perhitungan itu akan tiba. Maka, pada saat itu, tak seorang Nabi pun yang berani menghadap untuk dihisab dikarenakan masing-masing tergambar “dosa” kala ia hidup dahulu … lalu, saat itu pula Nabi Muhammad pun memohon agar diawalkan penghisabannya.

Jibril pun datang menemui Muhammad, lalu berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu telah dipanggil untuk dihisab oleh Allah Taala.”

Setelah mendapat berita bahwa umatnya akan dihisab lebih awal dibandingkan umat-umat yang lain, Muhammad pun mengumumkan kepada umatnya itu. Dan, di antara orang-orang yang berdosa pun menyahut dengan senggukan tangis. Terkejut dan takut akan azab yang janjikan-Nya itu benar akan tiba.

Kemudian, perlahan Muhammad memimpin semua barisan umatnya sebagaimana penggembala memimpin ternaknya menuju Allah Taala.

Lalu, Allah berfirman: “Wahai hambaKu! Hari ini, Kami akan membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan. Hari ini, Aku akan memuliakan sesiapa yang mentaatiKu. Dan, Aku akan mengazab siapa saja yang durhaka terhadapKu ….”

Allah … Allah … Allah … ampuni kami. Ampuni khilaf kami, dan jadikanlah Muhammad, Nabi kami tercinta sebagai syafaat kala hari itu tiba. Hari di mana tiada lagi kasih selain kasih Nabi kami dan kasih-Mu. Amin.[]

 

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.